Loving Night

WARNING!!


Ini full NC!!
Jadi bagi adik-adik yg merasa masih dibawah umur harap menyingkir:)
Karena, kaya yg udah aku bilang sebelum-sebelumnya, aku gakan bertanggung jawab atas apa yg terjadi pada kalian setelah baca ff ini:3
Muntah-muntah, mual, enek, jyjyk, kejang-kejang, ditanggung sendiri ya hehe:3









Douzou~









Bruk

Seorang pria berambut blonde yang dikenal dengan nama Yamada Ryosuke itu merebahkan tubuhnya pada sebuah sofa. Minuman yang tadi ia bawa ia letakkan pada sebuah meja didepannya.

Ia baru saja selesai performbersama Hey! Say! JUMP untuk sebuah acara musik di Hongkong. Dan sekarang tubuhnya terasa sangat lelah setelah seharian ini menghibur para penggemarnya.

Yamada lalu mulai menutup matanya untuk beristirahat sejenak. Namun belum ada satu menit dia menutup mata dia merasakan seseorang duduk disampingnya, Yamada pun membuka kembali matanya untuk melihat siapa kira-kira orang yang duduk disampingnya itu.

"Yuya?" ucap Yamada ketika melihat seorang pria berambut hitam disampingnya, dia ternyata Takaki Yuya salah satu anggota grupnya juga.

"Yo Yama-chan" balas Yuya sambil menengok kearah Yamada lalu tersenyum. Yamada lalu membenarkan posisi duduknya namun masih menyandarkan punggungnya pada sofa.

Sedangkan Yuya lalu meletakkan sebuah minuman yang tadi ia bawa pada meja, ia lalu mengeluarkan sebuah pil kemudian menaburkan isinya kedalam minuman tadi.

Yamada hanya menaikkan sebelah alisnya heran melihat hal yang dilakukan Yuya. Apa sebenarnya yang sedang dilakukan pria itu? itu obat apa?

"Lu ngapain sih Yuy? Lu lagi sakit?" tanya Yamada akhirnya karena penasaran

"Ah enggak kok" jawab Yuya tanpa menatap Yamada karena ia masih sibuk mengaduk-aduk minumannya

"Trus? Itu obat apaan?"

"Oh ini... Ini obat perangsang" jawab Yuya enteng

"HAH?!" Yamada langsung melotot mendengarnya. Orang ini! Tidak punya malu atau bagaimana sih?! Kenapa dengan mudahnya dia menjawab begitu?! Dasar bakaki!

"Kenapa Yam? Lu mau? Bagus nih katanya obatnya, efeknya cepet tapi tahan lama" tawar Yuya, ia lalu beralih menatap Yamada setelah urusannya dengan minumannya selesai

"Dih buat apaan! Lagian lu ngapain coba bawa obat gituan?!"

"Hehe iseng aja sih....." Yamada memutarkan bola matanya ketika mendengar jawaban Yuya

"...Um, sebenernya ini buat Dai-chan sih" Yuya melanjutkan dengan volume suara lebih kecil

"??!!"

"Gue pengen main-main dikit sama dia hehe. Lagian mumpung kita lagi di Hongkong gitu kan, biar berasa lagi Honeymoongitu hahahaha" lanjut Yuya sambil menggaruk tengkuknya dan tersenyum malu-malu

"Dasar gak modal lu! Honeymoontuh liburan gitu kek kemana gitu berdua doang!"

"Dih serah gue lah. Masih mending ya gue gak modal tapi gue berani ngungkapin perasaan gue ke Dai-chan! Dan kita udah jadian! Dai-chan udah jadi milik gue! Lah elu? Ngajak jalan kemana-mana, ngebeliin macem-macem tapi masih ngegantung? Wahahahaha doi diambil orang baru nyaholu!...." balas Yuya, dan hal itu langsung menohok hati Yamada

"....Lagian lu mau sampe kapan sih Yam ngegantungin dia gitu? Kesian woi anak orang!"

"Serah gue lah! Bukan urusan lu itu mah" jawab Yamada sambil mengalihkan pandangannya kearah lain

"Hah~ terserah lu sih... Tapi sebagai abang yang baik gue cuma mau ngingetin lu Yam, jangan lama-lama ngegantungin dia, atau nanti lu keduluan orang. Kalo sampe lu keduluan, gue yakin seribu persen lu pasti bakal nyesel" mendengar ucapan Yuya tatapan Yamada mulai meredup

"Ya udah gue ke kamar gue dulu ya, pikirin kata-kata gue baik-baik Yam" lanjut Yuya sambil menepuk pundak Yamada dan berlalu pergi meninggalkan Yamada, dan tak lupa membawa minumannya.

Hah~

Yamada menghembuskan napas kasar.

Yang dikatakan Yuya tadi itu memang benar, kalau ia terus-terusan menunda untuk menyatakan perasaannya dia pasti akan keduluan orang lain. Tapi, mau bagaimana lagi? Ia masih ragu.
Bukan. Yamada bukannya ragu dengan perasaannya pada orang itu. Justru yang Yamada ragukan adalah perasaan orang itu padanya, Yamada takut perasaannya tak terbalaskan. Yamada tidak siap menerima penolakan.

"Haaaaa capenyaaaaaaa" tiba-tiba saja terdengar sebuah suara dari sebelahnya. Saking sibuknya melamun Yamada sampai tidak menyadari kalau ada orang lain yang masuk keruangan itu.

Saat mendengar suara yang sangat ia kenali itu Yamada langsung menengokkan kepalanya. Disampingnya terlihat seorang pemuda berperawakan kecil tengah duduk tepat disampingnya sambil menyandarkan punggungnya pada sofa dan menutup kelopak matanya.

Kirei

Adalah satu kata yang langsung terlintas diotak Yamada. Ya, Yamada memang benar, pria itu memang sangat cantik. Walaupun dia adalah seorang lelaki tapi entah bagaimana wajahnya terlihat sangat cantik, terutama matanya, bagian itu benar-benar memikat hati Yamada. Bagai terkena sihir Yamada sampai tidak bisa mengalihkan pandangannya dari menatap orang itu sampai kemudian kedua kelopak mata indah itu kembali terbuka

"Yama-chan?" ucap orang itu ketika melihat Yamada hanya bengong sambil menatapnya

"A-ah Y-ya?" orang itu, Chinen Yuri lebih tepatnya, terkekeh saat melihat Yamada tiba-tiba terlihat gugup. Sedangkan Yamada sendiri wajahnya sudah memerah akibat malu. Tentu saja dia malu! Bagaimana tidak, dia telah tertangkap basah memandangi dengan ekspresi kagum, wajah orang yang dia sukai, dan itu oleh si pemilik wajahnya langsung!

"Kamu kenapa sih?" tanya Chinen ketika melihat Yamada kembali bengong

"A-ah, enggak kok. Gak kenapa-napa, cuma cape aja" jawab Yamada sambil mengalihkan pandangannya

"Hmm,, iya sih aku juga cape~"

"Ah apa itu minumanmu?" tanya Chinen ketika melihat minuman diatas meja

"Un, iya itu milikku"

"Boleh aku minta? Aku haus~" pinta Chinen, sambil tak lupa memasang puppy eyes andalannya yang selalu bisa meluluhkan hati banyak orang terutama Yamada

"Boleh, minum saja"

"Arigatou Ryosuke~" setelah berterimakasih Chinen segera mengambil minuman itu dan langsung meminumnya hingga tanpa sadar menghabiskannya

"Ah Yabai~ aku menghabiskannya Yama-chan! Bagaimana ini?" Chinen langsung panik setelah sadar bahwa ia meminum habis minuman Yamada.

Yamada hanya tersenyum melihatnya.

"Tidak apa-apa Chii, nanti aku bisa ambil lagi" jawab Yamada sambil mengelus rambut hitam Chinen

"Hontou? Ah Ryosuke benar-benar baik! Kau selalu baik padaku hehe"

'Tentu saja, karena aku sangat mencintaimu Chii' jawab Yamada dalam hati.

"Um, omong-omong kau mau ke kamar? Aku sudah lelah ingin tidur hehe" ucap Chinen

"Ah iya, kau duluan saja. Aku masih ada urusan"

"Um, baiklah aku duluan ya,  jaa~"

Setelah itu Chinen segera bangkit dan pergi menuju kamarnya, meninggalkan Yamada yang masih setia menatap kepergiannya sampai dia benar-benar menghilang dari balik pintu.

Ha~
Yamada sebenarnya sudah tidak tahan! Ia ingin segera mengungkapkan perasaannya pada Chinen! Yamada ingin segera memberitahunya bahwa dia sangat mencintai Chinen lebih dari apapun didunia ini!

❤❤❤



Saat ini Yamada tengah berjalan dilorong hotel menuju kamarnya, yang akan ia tempati bersama Chinen.


Ya, kali ini dia mendapat kamar bersama Chinen. Hal ini sudah sangat biasa bagi para member JUMP, mereka memang sudah biasa harus berbagi kamar dengan member lain.


Setelah sampai didepan kamarnya Yamada mencoba memutar knopnya, dan ternyata pintunya tidak dikunci. Mungkin Chinen belum tidur pikirnya. Dan ketika ia memasuki kamarnya ternyata dugaannya benar. Chinen memang belum tidur.


Tetapi ada sesuatu yang membuat Yamada akhirnya hanya mematung didepan pintu.


Itu karena ia melihat kondisi Chinen saat ini yang sangat... Ugh... Bagaimana harus menjelaskannya ya....


Yang jelas Chinen saat ini tengah terbaring diranjang, dengan bermandikan peluh yang membuat kemeja putih yang ia kenakan jadi menampilkan lekuk tubuhnya. Rambutnya berantakan, wajahnya memerah, napasnya memburu dan sesekali terdengar lenguhan dari bibir indahnya.


Dan hal itu benar-benar terlihat sangat seksi dimata Yamada.


Yamada sebenarnya sangat terkejut melihat hal itu, namun bukannya keluar ia malah memilih melanjutkan langkahnya masuk mendekati Chinen setelah sebelumnya menutup dan mengunci pintu


"C-chii? Kau kenapa?" tanya Yamada hati-hati ketika ia telah berada disamping ranjang Chinen


"Y-yama-chanh... A-akuh... Hnngg.. A-akuh... Tidak tau... Ah... kenapa.. Tubuhku... Rasanya.. Mm.. Panashh.. Ah.. Se-seperti terbakar... Ha.. Ahh.. Hah..." Chinen berusaha menjawab pertanyaan Yamada dengan susah payah


Chinen sendiri pun tidak tau apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya. Setelah bertemu Yamada diruangan tadi ia segera masuk kamarnya, ia berniat untuk segera mandi dan tidur karena ia merasa sangat lelah. Tapi ketika sampai dikamarnya ia merasa tubuhnya jadi terasa aneh. Ia merasa libidonya naik. Dan ia ingin dijamah.


Yamada hanya termenung mendengar jawaban Chinen namun ia ingat sesuatu. Ia teringat ucapan Yuya setengah jam yang lalu


"Oh ini... Ini obat perangsang"


Ah apa mungkin tadi Yuya salah membawa minumannya? Dia malah membawa minuman milik Yamada? Dan meninggalkan minumannya yang akhirnya diminum Chinen?


Sepertinya benar. Karena hanya itu jawaban yang paling tepat. Yamada sangat mengenal Chinen, ia tahu Chinen bukanlah seseorang yang hentaiseperti Inoo atau pun Daiki. Jadi, Chinen pasti meminum minuman yang sudah Yuya campur dengan obat perangsang makanya ia jadi seperti ini.


"ngghh..." Chinen kembali melenguh tanpa sadar. Ia masih terkapar diatas ranjang dengan nafas yang semakin memburu seperti ikan yang terdampar didaratan.

Yamada pun kembali mengalihkan pandangannya pada Chinen.

Glup

Yamada menelan ludahnya susah payah melihat pemandangan indahdidepannya. Matanya terus turun menyusuri tubuh Chinen, lalu berakhir saat melihat gundukkan yang sudah membesar ditengah celana Chinen.

Chinen yang menyadari arah pandangan Yamada langsung berusaha bangkit dari posisi berbaringnya.

"A-ah.. Aku.. Hh.. Akan.. Menyelesaihkan ini.. Du-dulu" setelah mengatakan itu Chinen segera beranjak dari ranjangnya dan berjalan kearah kamar mandi. Namun baru dua langkah Chinen berjalan tangannya langsung ditarik oleh Yamada, tubuhnya lalu dihimpit diantara dinding dan tubuh Yamada. Dan tanpa aba-aba Yamada langsung menabrakkan bibirnya pada bibir Chinen.

Yamada langsung melumat bibir Chinen dan sedikit menggigitnya untuk meminta akses masuk untuk lidahnya.

Chinen yang terkejut awalnya meronta dan berusaha mendorong dada Yamada untuk menjauh darinya tapi tenaganya tak cukup kuat dan birahinya yang memang sudah naik mengambil alih kewarasannya, membuat Chinen akhirnya hanya pasrah dan menikmati permainan Yamada pada bibirnya.

Setelah beberapa menit Yamada akhirnya melepaskan pagutan mereka

"Hah... A-apah.. Yang... Hh.. Kau lakukan Y-yama-chan!"

"Chii... A-aku... Ijinkan aku membantumu Chii"

"Ja-jangan bercanda! Me-menyingkir lah darih tubuhku! Aku bisahh.. Menyelesaikannya sendirihh!" Chinen kembali berusaha mendorong tubuh Yamada, namun pelukan Yamada dipinggangnya justru semakin menguat

"Tidak Chii!" jawab Yamada tegas

"Apa kau tau kenapa tubuhmu seperti ini?" tanya Yamada. Chinen tidak menjawab tapi hanya menatap Yamada dengan wajah bingung

"Itu karena kau meminum minuman yang sudah Yuya beri obat perangsang"

"M-maksudnya?!"

"Tadi Yuya memasukkan obat itu kedalam minumannya, itu untuk Dai-chan. tapi sepertinya dia salah membawa minuman dan malah membawa minumanku. Jadi sepertinya minuman yang kau minum tadi itu milik Yuya, yang sudah ia beri obat" Yamada menjelaskan.

Pantas saja.

'Dasar Bakaki sialan!' inner Chinen

"Jadi.. Sebagai ungkapan rasa bersalahku, ijinkan aku membantumu Chii"

"T-tapi..." Chinen tak sempat menyelesaikan ucapannya karena Yamada kembali melumat bibirnya. Namun tak lama ia melepaskannya kembali

"Percaya padaku Chii... Aku tidak akan menyakitimu" Yamada menatapnya lembut untuk meyakinkan, dan tanpa sadar Chinen langsung menganggukkan kepalanya.

Melihat hal itu Yamada pun langsung tersenyum sambil mengelus pipi tembam Chinen. Ia lalu mendekatkan wajahnya kembali dan mulai menempelkan kembali bibirnya pada milik Chinen. Dia menghisapnya, melumatnya lalu sedikit menggigitnya untuk meminta jalan masuk untuk lidahnya. Chinen yang mengerti pun kemudian sedikit membuka mulutnya dan tanpa menyia-nyiakan kesempatan Yamada langsung melesakkan lidahnya kedalam mulut Chinen.

Lidahnya asik bergerilya didalam mulut Chinen, dimulai dari mengabsen gigi-gigi Chinen lalu mengajak lidah Chinen untuk bergulat dengan miliknya dan sesekali menghisapnya.

"Hnnggg.. hmmmhh.."

Suara decakkan yang berasal dari kedua bibir mereka menggema diseluruh ruangan kamar.

Cukup lama mereka berciuman hingga membuat banyak saliva yang turun keluar dari sela-sela bibir mereka.

Ketika bibir dan lidahnya sibuk memanjakan bibir dan lidah Chinen, tangannya pun tidak tinggal diam. Tangannya mulai membuka kancing kemeja Chinen satu persatu. Setelah selesai ia lalu melepaskan kemeja Chinen dan membuangnya entah kemana, ia lalu mengelus perut Chinen dari bawah menuju dada dan mengulanginya dari dada lalu kebawah.

Setelah merasa puas dengan mengelus perut, Yamada pun memindahkan tangannya untuk memainkan kedua puting kecil Chinen. Ia memilinnya lalu sedikit mencubitnya membuat Chinen menjerit didalam ciumannya. Ia terus melakukan hal itu hingga membuat bagian tersebut semakin mengeras.

Yamada mulai menurunkan ciumannya kearah leher Chinen. Ia menyeret lidahnya disepanjang garis rahang Chinen menuju leher dan berhenti sebentar di pundaknya untuk mengecup, menghisap, menggigit, dan menjilatnya. Meninggalkan bekas kemerahan yang kentara pada kulit putih Chinen.

"A-ahh.. Ha.. Ha.."

Cengkraman Chinen pada pundak Yamada semakin menguat ketika Yamada kembali menurunkan ciumannya kearah dadanya, kembali meninggalkan beberapa bekas kemerahan sebagai tanda kepemilikannya disana. Setelah merasa puas Yamada lalu memindahkan bibirnya kembali, kali ini ia menyerang bagian puting kanan Chinen, dia menyedotnya lalu menghisapnya membuat desahan Chinen semakin tak terkendali

"Ahh.. Nngghh.. Y-yama-chan!! Ha.. Ahh..."

Yamada terus mengulangi hal itu bergantian pada kedua puting Chinen.

"ha-ah.. Ha.. Mmhh.. Ah.. Ah.."

Chinen merasa kakinya semakin lemas, ia merasa sudah tidak kuat lagi menahan berat badannya sendiri membuat tubuhnya yang bersandar pada dinding kamar mulai merosot.
Yamada yang menyadari hal itu segera memeluk pinggang Chinen untuk menahannya. Dia lalu kembali mencium bibir Chinen sementara tangannya menggendong tubuh Chinen dan membawanya kembali berbaring diatas kasur.

Yamada memposisikan dirinya diatas Chinen tanpa melepaskan pagutan mereka. Setelah merasa persediaan oksigennya mulai berkurang barulah dia melepaskan pagutan bibir mereka. Setelah itu dia mulai kembali mengecup leher dan dada Chinen.

"Ya.. Yama-chan!!..hh... Ce-celanakuh.. Ha.. Itu.. Ahh.. Sempithh.."

"Ah gomen ne Chii.. Aku akan melepaskannya sekarang"

Setelah mengatakan itu tangan Yamada dengan cepat langsung meraih resletingcelana Chinen lalu menarik celana beserta cd-nya kebawah, membuat 'adik' Chinen yang sejak tadi memang sudah tegang terpampang jelas didepan wajah Yamada.

Yamada langsung menyeringai. Dia lalu mulai menggenggamnya dengan tangan kanannya lalu menggerakkan tangannya keatas dan kebawah memompanya sambil ibu jarinya sedikit memijat dan mengelus bagian atasnya

"NGHH... Ha... Ahhh.. Ya... Ah.. Yama-channhhh.. Ha.. Mo-motto!! Ahh.. Pe-percepat!!!.. ha.." Chinen bicara susah payah dengan nafas yang tersenggal-senggal. Ia seperti sudah tidak peduli lagi dengan tata krama dan harga dirinya dengan memerintah dan meminta sesuatu yang tidak senonoh seperti itu. Nafsu benar-benar sudah mengambil kewarasannya. Yang jelas saat ini dia ingin disentuh, ingin dijamah, dia ingin mengeluarkan sesuatu yang bergejolak didalam dirinya. Dan dia ingin segera menghilangkan efek obat sialan yang membuatnya gila seperti itu.

"Yama-channhh...hh.. Mo-mottoohhh" Chinen kembali meminta.

Yamada yang mendengarnya dengan senang hati langsung menurutinya. Namun kali ini ia juga menggunakan mulutnya untuk bermain. Dimulai dengan lidahnya yang menjilat bagian ujung kejantanan Chinen membuat Chinen semakin mencengkram seprei erat-erat dan menjerit frustasi, setelah itu Yamada lalu menenggelamkan keseluruhan kejantanan Chinen didalam mulutnya

"A-arrghh... Ha... Nghhh.. Ngahh.. Hah..."

Yamada memasukkan dan mengeluarkannya dengan tempo yang lambat namun berangsur-angsur mulai cepat. Hingga tidak lama setelahnya Chinen mengeluarkan benihnya didalam mulut Yamada, dan Yamada tanpa rasa jijik langsung menelannya dalam sekali teguk.

"A-AAAHH...NGGHHH... Y-YAMA-CHANNNHHH.. HA.. HA..."

Chinen langsung terkulai lemas setelahnya, dadanya naik-turun ketika ia mulai mengatur nafasnya yang tersenggal-senggal.

Yamada merangkak kembali diatas tubuh Chinen. Lalu kembali mencium bibir Chinen, membiarkannya mencicipi benihnya sendiri yang masih tersisa didalam mulut Yamada.
Setelah beberapa menit Yamada lalu melepaskan pagutannya. Ia lalu menyatukan keningnya dengan milik Chinen, menatap intens Chinen dibawahnya yang masih sibuk mengatur nafasnya.

"Kau benar-benar cantik Chii" Yamada mengelus pipi Chinen lalu mengecup bibirnya kembali secara singkat dan turun dari ranjang untuk membuka seluruh pakaiannya sendiri membuatnya telanjang bulat tanpa sehelai benang pun, setelah selesai ia kembali merangkak keatas ranjang. Lebih tepatnya diatas tubuh Chinen.

Chinen mengalihkan pandangannya ketika melihat Yamada. Mau bagaimana pun, ia tetap merasa malu. Apalagi ini yang pertama baginya.

"Aku akan mulai menyiapkanmu sekarang. Kau harus rileks ya?" ucap Yamada sambil mengelus kembali pipi Chinen. Chinen hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun

"Aku akan melakukannya selembut mungkin, Jadi kau tenang saja..."

"...Aku tidak akan menyakitimu" lanjut Yamada, ia mengecup singkat bibir Chinen sebelum mulai kembali kebagian bawah tubuh Chinen.

Dia mulai menekuk kedua kaki Chinen lalu melebarkannya, namun dengan cepat Chinen langsung merapatkannya kembali.

"Chii? Kenapa? Jangan dirapatkan~ lebarkan saja"

"A-aku ma-malu" Chinen menjawab tanpa menatap Yamada

Yamada langsung tersenyum gemas.

"Tidak usah malu. Kau terlihat cantik Chii, kenapa harus malu?...." tanya Yamada. Tapi Chinen tak menjawab dan masih mengalihkan pandangannya

"Aku janji aku tidak akan menyakitimu. Kau percayakan padaku?" Chinen langsung menganggukkan kepalanya

"Kalau begitu lebarkan saja kakinya, tidak apa-apa" Yamada kembali membujuk. Oh ayolah, apa mereka akhirnya hanya akan berhenti disini? Lalu bagaimana dengan 'adik'nya yang sejak tadi sudah menwgang dan berkedut nyeri meminta jatah? Yamada ingin sekali berteriak frustasi. Tapi mau bagaimana pun, kalau Chinen memang tidak mau dia tidak akan memaksa. Dia tidak akan memaksakan keinginannya pada Chinen kalau akhirnya hanya akan menyakiti Chinen. Tapi akhirnya Chinen mulai melebarkan kakinya lagi, Yamada langsing tersenyum cerah. Ia segera memposisikan tubuhnya diantara kedua kaki Chinen.

"Ah, Chii... Aku lupa kalau kita tidak punya pelumas, kau baantu menjilat jari-jariku ya? Agar tidak terasa sakit" Chinen hanya mengangguk dan mulai mengemut jari jemari Yamada yang disodorkan didepan mulutnya. Setelah merasa cukup Yamada pun mengeluarkannya dari mulut Chinen

"Aku akan mulai, rileks ya?" setelah mendapat persetujuan dari Chinen Yamada mulai memasukkan jari terkecilnya kedalam lubang rapat Chinen

"AH!!"

"apa sakit?" Chinen langsung menggeleng

"H-hanya, sedikit tidak nyaman"

"Tahan ya?" Chinen kembali mengangguk

Yamada mulai memasukkan jari keduanya. Chinen berusaha menahan jeritannya dan mencengkram seprei dengan kuat dan memejamkan matanya. Ini benar-benar tidak nyaman!

"Chii? Apa sakit?" tanya Yamada. Chinen langsung menggeleng

"T-tidak. Lanjutkan saja Yama-chan" Yamada kembali memasukkan jari ketiganya setelah mendengar jawaban Chinen

"AGH..Hnnghh.. Mhhh.." Chinen langsung menggigit bibirnya untuk menahan jeritannya akibat rasa perih yang ia rasakan dibawah sana.

"Chii? Hei.. Keluarkan saja, tidak usah ditahan.. "

"....Chii?.. Apa sakit?"

"Pe-perihhh... Hiks.." air mata mulai merembes keluar dari kedua mata Chinen yang tertutup

"Iya.. Iya.. Tahan sebentar ya? Kau harus rileks"

Setelah beberapa menit menunggu, Yamada pun mulai menggerakkan jarinya keluar-masuk, tentu saja setelah ia merasa Chinen mulai tenang dan rileks kembali

"Ahh-ngghhnn... Ha... Ahh..." Chinen muali kembali melenguh ketika rasa perihnya berangsur-angsur menghilang

"ARGHH.. HA.. AHH..."
Yamada kembali menambahkan satu jari lagi kedalam Chinen tanpa aba-aba. Ia lalu mencubit dan memilin puting kanan Chinen untuk mengalihkan rasa sakitnya.

Yamada mulai mempercepat gerakan keluar-masuknya, ia mengeluarkan satu jari terkecilnya hingga hanya menyisakan tiga jari saja didalam Chinen lalu mulai menggerakannya secara zig-zag didalam sana

"AH!!.. Umhh..."

'Disana kau rupanya' Yamada menyeringai ketika berhasil menemukan sweet spot Chinen. Setelah dirasa cukup Yamada lalu mengeluarkan jari-jarinya. Membuat Chinen mendesah kecewa. Ia baru saja akan keluar untuk kedua kalinya saat Yamada mencabut jari-jarinya.

"Aku akan mulai menggantinya dengan milikku. Kau harus tetap rileks oke?" Yamada beralih menatap Chinen

"Oh ya. Bisa bantu melumuri milikku juga dengan ludahmu? Agar masuknya lebih mudah" Chinen sedikit menyipitkan matanya jijik. Tapi, sekali lagi. Nafsu mengalahkan logikanya, ia ingin segera menyelesaikan ini agar efek obat sialan itu segera menghilang. Jadi Chinen hanya menganggukkan kepalanya. Yamada lalu mulai merangkak kembali keatas dan menyodorkan kejantanannya tepat dihadapan Chinen.

Chinen langsung melotot melihat ukuran Yamada.

Astaga. Itu besar sekali! Apakah itu akan masuk kedalam dirinya?! Menggunakan jari yang kecil saja rasanya sudah sangat sakit apalagi dengan benda sebesar ini?!

Chinen menelan ludahnya susah payah.

Yamada yang menyadari Chinen hanya diam sambil memandangi miliknya langsung menyeringai

"Kenapa Chii? Apa kau mengagumi milikku?" tanyanya dengan bangga membuat Chinen mendengus

"Aku tau milikku memang sangat mengagumkan~ bahkan aku yakin milikku lebih besar dibanding Yuya, Yuto atau pun Yabu-kun~ fufufu~"

Chinen memutarkan bola matanya. Dan mulai memasukkan kejantanan Yamada kedalam mulutnya tanpa banyak bicara.

"Hmm.. Ahh.." Yamada menggeram nikmat ketika miliknya sudah berada didalam mulut Chinen. Walaupun miliknya bahkan tidak bisa masuk seluruhnya kedalam mulut Chinen.

"ahh.. S-stop Chii!!" Yamada segera menyuruh Chinen menghentikan aktifitasnya dan mengeluarkan miliknya dari mulut Chinen ketika ia merasa dia akan keluar. Karena dia tidak ingin keluar terlebih dahulu sebelum berada didalam Chinen.

Yamada lalu kembali memposisikan diri ditengah kaki Chinen yang sudah ia lebarkan dan memposisikan miliknya tepat didepan lubang milik Chinen.

Dia lalu mencondongkan tubuhnya kearah tubuh Chinen agar bisa menatapnya dari dekat

"Aku akan mulai sekarang. Kau cobalah untuk tetap rileks ya?" Chinen hanya mengangguk. Yamada lalu mengarahkan tangan Chinen untuk memeluk lehernya

"Kalau sakit teriak saja. Lalu cakar pundak atau punggungku sekencang mungkin oke?" Chinen kembali mengangguk. Yamada kemudian mengecup bibirnya singkat sebelum mulai menggerakkan pinggulnya.

"Ah! A.. A-AAAHHH.. Hnngg" Chinen mengerang keras sambil memeluk leher Yamada erat ketika rasa sakit mulai menyerangnya. Itu benar-benar terasa sakit! Padahal baru ujungnya saja yang masuk, tapi sakitnya luar biasa!

"Chii? Apa aku boleh lanjut?" tanya Yamada, Chinen hanya mengangguk sambil berusaha menahan erangannya. Yamada kembali mendorong pinggulnya perlahan, namun ketika sudah masuk setengah ia lalu menghentakkan pinggulnya membuat kejantanannya akhirnya masuk seluruhnya kedalam Chinen dalam sekali hentakkan

"HE.... AAARRRGGHHH.. NGAAHHH.. HA..  HAA..." Chinen menjerit sekencang yang ia bisa ketika rasa sakit yang amat luar biasa menyerang lubangnya dibawah sana. Air mata sudah mengalir deras dari mata indahnya, cengkramannya dipundak Yamada pun menguat bahkan kuku-kukunya sampai tertancap dipundak Yamada membuat Yamada meringis menahan perih. Tapi ia tidak mempermasalahkannya. Karena dia yakin rasa sakit yang ia rasakan tidak sebanding dengan yang dirasakan Chinen.

"Ssttt... Yuri~ tenanglah~ "

"Sakit! Hiks... Hikss.. Sakit..." Chinen terus terisak sambil menggumamkan kata sakit berulang-ulang

"Iya.. Iya.. Aku tidak akan bergerak dulu sampai kau terbiasa.."

"sakithh.. Hiks.. Sakit..."

"Apa kau ingin kita berhenti saja?" tanya Yamada. Ia tidak tahan melihat Chinen kesakitan seperti itu. Ia sudah berjanji tidak akan menyakiti Chinen tapi pada akhirnya dia malah menyakitinya. Chinen langsung menggeleng lalu mengeratkan pelukannya dileher Yamada

"Tapi aku tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini" Yamada mengelus pipi Chinen sambil menatapnya lembut. Chinen kembali menggeleng

"Ja-jangan berhenti! Hiks.. A-aku hanya butuh waktu untuk terbiasa dulu"

"Iya Yuri~ aku pasti akan menunggumu sampai terbiasa dulu. Tapi kau harus rileks dan jangan menangis lagi, aku tidak tega" ucap Yamada lalu mengusap air mata Chinen. Chinen langsung mengangguk sambil berusaha menghentikan tangisannya.

"Yama-chan.. Kau boleh bergerak sekarang" ucap Chinen setelah beberapa saat diam

"kau yakin?"

"Un"

"Baiklah. Tapi kalau kau tidak kuat dan ingin berhenti bilang saja ya? Kau juga boleh mencakar punggungku lagi"

"Iya"

Setelah mendapat persetujuan dari Chinen Yamada pun mulai menarik pinggulnya hingga membuat hanya ujung kejantanannya saja yang berada didalam Chinen, lalu tidak lama ia mendorongnya kembali. Dia terus mengulangi itu dengan tempo yang lambat.

"Nghh.." Chinen kembali mencengkram erat pundak Yamada saat rasa sakit masih ia rasakan. Tapi setelah beberapa saat rasa sakit itu mulai menghilang, digantikan dengan rasa nikmat.

"Ahh... Ah.. Mhhh.. Ha.. Ahhh.."

"Nnghhh... Ahh.." Yamada menggeram ketika rasa nikmat mulai menjalari tubunya, ia lalu mulai mempercepat temponya.

"aaahhh.. Aghhh.. Ya.. Yama... Channhhh... Ha"

"se.. Sebut namaku Yuri!.. Na.. Namaku!.. Ha"

"Ryo..hhh... Ryos... Ryosukehhh.. Ha... Ahh..."

"AHHH!!B RYOSHUKEEEHHHH!!" Yamada menyeringai saat berhasil menemukan sweet spot Chinen. Dia lalu mengarahkan kejantanannya kearah sana dan menabrakannya beberapa kali, membuat Chinen terus mendesah dan melenguh tak terkendali.

Yamada mencondongkan wajahnya kearah Chinen lalu kembali melumat bibirnya seperti orang kelaparan, dengan tak menghentikkan gerakan pinggulnya sama sekali. Setelah puas ia lalu menurunkan ciumannya kearah leher dan pundak Chinen, kembali meninggalkan beberapa bercak kemerahan disana.

"Haa.. Ahhh.. Ha.. Ryo.. Ryosuke.. Hh.. Mo...motto... ha...." mendengar permintaan Chinen Yamada dengan senang hati langsung menurutinya, dia mulai mempercepat temponya dan menghentakkan pinggulnya dengan keras.

Suara decitan ranjang dan suara desahan Chinen yang menggema didalam ruangan membuat suasana kamar itu semakin panas dan tentu saja membuat Yamada semakin semangat, ia terus menghentakkan pinggulnya didalam Chinen dengan keras dan cepat. Tak membiarkan Chinen berhenti melenguh barang sedetik saja.

"mmhhh... Yuriii~ kau benar... benar... Ahh sempith ahh.."

Tangan Yamada mulai ia gunakan untuk memompa milik Chinen yang sempat ia anggurkan. Hal itu semakin membuat Chinen merasa terbang ke awang-awang, membuatnya terus melenguh dan mengerang karna perlakuan Yamada yang benar-benar memanjakan tubuhnya

"Ryosukehhh.. Ahh.. A-aku.. Ahh.. Aku.. Mau keluarhh.. Hah.."

"Tahannhh.. Sebentar.. Kita keluarkan bersama!" Yamada segera mempercepat tempo pinggulnya. Lalu setelah beberapa kali hentakkan mereka pun mencapai klimaks bersamaan dengan saling meneriakkan nama masing-masing

"RYOSUKEEEEE!... NGHHH!!... HAAAAA!!"

"YURIII!! AHH.. Aku... Mencintaimu!!" tubuh Yamada langsung ambruk diatas tubuh Chinen setelah mengeluarkan benihnya didalam tubuh Chinen.

Mata Chinen langsung membulat mendengar ucapan Yamada. Ia tidak salah dengar kan? Yamada baru saja mengatakan bahwa ia mencintainya?! Chinen langsung tersenyum bahagia sambil terengah-engah mengatur nafas. Tapi senyumnya kembali luntur ketika ia memikirkan kemungkinan lain. Mungkin saja Yamada mengatakan itu karena dia senang sehabis bercinta dan bukan benar-benar mencintainya.

Yamada mengangkat kepalanya untuk menatap Chinen yang masih terengah-engah dibawah kungkungannya

"Yuri, kau lelah?" Chinen hanya mengangguk lemah sebagai jawabannya. Yamada langsung tersenyum lembut sambil mengelap peluh didahi Chinen. Ia lalu teringat ucapannya beberapa menit yang lalu saat dia mencapai klimaksnya. Ini mungkin saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya pada Chinen. Walaupun dia masih merasa takut ditolak tapi perkataan Yuya kembali terngiang diotaknya. Ia akan lebih takut kalau ia terlambat dan Chinen dimiliki orang lain. Jadi, dia memutuskan untuk mengatakannya. Diterima atau tidak itu urusan belakangan!

"Yuri?"

"Hmm?" Chinen balas menatap Yamada dengan tatapan yang sayu. Dan entah kenapa hal itu membuat libido Yamada kembali naik

Glup

Yamada menelan ludahnya susah payah.

'Ayo Ryosuke! Kau harus berani mengataakn apa yang ingin kau katakan!' Yamada menyemangati dirinya sendiri

"Aku mencintaimu Yuri" Yamada mengatakannya dengan sekali nafas. Chinen cukup terkejut tapi ia memasang wajah biasa saja. Dia tidak ingin kegeeran dulu.

"Apa kau mengatakan itu karna kau merasa bersalah karna telah bercinta denganku?" tanya Chinen

"Ap-APA?!.." Yamada langsung mengerutkan dahinya

"Tidak Yuri! Tentu saja tidak!" lanjut Yamada

"Aku benar-benar mencintaimu Yuri! Sungguh!"

"Oh ya? Sejak kapan?" tanya Chinen dengan wajah tenang walaupun sebenarnya hatinya sudah melompat-lompat bahagia

"SUNGGUH YURI! astaga! Aku sudah menyukaimu sejak awal kita debut! Apa kau sama sekali tidak menyadarinya? Padahal aku selalu melakukan banyak cara agar kau bisa menyadarinya! Tapi... Kau benar-benar tidak menyadarinya?" Chinen langsung menggeleng. Dia bohong. Chinen berbohong. Sebenarnya dia sudah menyadarinya sejak awal. Tapi dia tidak mau kepedean, dia takut salah mengira dan hanya akan menyebabkannya sakit hati sendiri.

"Astaga! Sungguh Yuri! Aku benar-benar mencintaimu lebih dari apapun didunia ini!" Ucap Yamada dengan wajah frustasi. Ia benar-benar bingung harus bagaimana untuk membuat Chinen percaya dengan perasaannya. Tapi tiba-tiba saja Chinen tertawa membuat Yamada semakin bingung. Apa Chinen mentertawakan perasaannya?

"Kenapa kau malah tertawa?!" tanya Yamada kesal

"Hahaha.. Tidak apa-apa.. Haha" Chinen berusaha menahan tawanya

"Hah~ lalu kau ingin apa setelah menyatakan perasaanmu begitu? Apa kau hanya ingin menyatakan perasaanmu saja?" pancing Chinen

"Aku ingin kau menjadi kekasihku Yuri! Menjadi teman hidupku! Dan menjadi milikku seorang!" Jawab Yamada dengan lugas sambil menyatukan kening mereka

Chinen tersenyum lembut

"Aku pikir selama ini aku sudah menjadi milikmu Ryosuke" jawab Chinen. Yamada kembali mengerutkan keningnya tak mengerti

"Maksudmu?"

"Hah~ aku pikir setelah semua yang kita lakukan bersama selama ini, aku memang sudah menjadi milikmu~"

"Jadi... Kita pacaran?" tanya Yamada

"Entahlah..." Chinen mengendikkan bahunya

"...Tapi kita bahkan lebih sering menghabiskan waktu berdua saja dibanding dengan yang lain" lanjut Chinen. Yamada langsung tersenyum

"Aku mengerti!"

"err... Tapi Yuri~ apakah kau juga mencintaiku?" tanya Yamada

"Tidak!" Chinen menjawab dengan wajah datar membuat Yamada langsung memasang wajah kecewa. Yamada baru akan membuka mulutnya untuk menjawab namun Chinen kembali berujar

"Tentu saja baka! Astaga Ryosuke! Apakah ini efek karena kau akhir-akhir ini sering ngobrol dengan Yuya?! Kenapa kau jadi baka begini!"

"Kau pikir untuk apa aku selalu menuruti keinginanmu, selalu berada disampingmu dan selalu menuruti perintahmu kalau aku tidak mencintaimu?! Bahkan kita sampai bercinta begini" Chinen mengecilkan volume suaranya saat mengucapkan kalimat terakhir sambil mengalihkan wajahnya yang memerah kearah lain.

Yamada mempoutkan bibirnya saat mendengar Chinen menyebutnya baka tapi sedetik kemudian dia mengukir senyum lembut pada bibirnya lalu terkekeh

"Jadi selama ini, aku hanya terlalu pengecut sampai tidak berani mengungkapkan perasaanku padamu. Dan ketakutan bahwa kau tidak mencintaiku padahal sudah jelas kau sangat menyukaiku haha"

"Huh kau memang sadngat pengecut~"

"OI!" Yamada memasang wajah tak terima namun langsung kembali mengubahnya jadi tersenyum

"Tapi aku senang karna aku akhirnay berani dan mendapat kepastian" ucap Yamada

"Aku belum memberi kepastian kalau aku mau jadi kekasihmu tuan Yamada Ryosuke!" Chinen menggerlingkan matanya

"Tapi kau bilang kau memang milikku sejak dulu hingga sekarang, selalu dan selamanya~" jawab Yamada sombong. Chinen langsung terkekeh mendengarnya. Yamada lalu mengecup bibirnya singkat dan memeluknya membuat tubuh mereka yang belum terbalut apa-apa kembali bersentuhan.

Dan hal itu entah kenapa membuat Chinen merasakan tubuhnya kembali aneh. Nafasnya mulai memburu kembali.

'Sialan! Apa efek obatnya belum hilang juga?!' inner Chinen

"Ryo... Ryosukehh!!"

"Hmm?" Yamada segera melepaskan peukannya saat mendengar panggilan lemah Chinen

"A-aku...hh.."

Yamada langsung menyeringai ketika menyadari apa yang terjadi. Dia lalu melumat bibir Chinen secara singkat sebelum berkata

"aku mengerti sayang~ persiapkan dirimu, untuk secound round" ucap Yamada dengan nada seduktif.

Dan mereka pun kembali melanjutkan kegiatan panas mereka sampai pagi....

❤❤❤


Hallaw~
I'm kambekXD
Ada yg kangen?XD
Gk sih kayanya:')


Ya, seperti biasanya kembali bawa cerita yang gaje:')
Ini ff enceh keduakuX'D maapkan kalau gk memuaskan ya~


Oh ya, btw, aku baru aja selesai tes pertama:') dan masih banyak tes yg harus aku lewati:') do'akan aku ya minna~






~Omake~


Hari ini HSJ dijadwalkan sudah harus kembali pulang ke Jepang. Ketujuh member sudah bersiap dilobi untuk segera berangkat kebandara. Namun mereka masih harus menunggu 2 member lainnya yang sejak tadi masih juga belum muncul batang hidungnya. Siapa lagi kalau bukan pemeran utama kita, Yamada dan Chinen. Padahal sejak tadi Yabu sebagai member tertua sudah menelponi mereka untuk bergegas dan Yamada menjawab mereka akan segera turun tapi sudah lima belas menit berlalu dan mereka belum juga datang.


"Hah~ ngapain dulu sih mereka berdua?" tanya Inoo yang sudah mulai lelah menunggu


"Mungkjin Yama-chan ke wc dulu kali. kemaren dia makan pedes soalnya siapa tau aja dia jadi diare ya kaaan" jawab Daiki sambil mengunyah pocky nya


Tak lama setelah Daiki bicara Yamada dan Chinen akhirnya datang. Dengan kondisi Chinen yang berjalan dengan tertatih-tatih dan sesekali mendesis seperti mrnahan sakit dan Yamada disampinga membantu memapahnya.


"Ma'af kami telat"


"kalian ini dari mana dulu sih!" misuh Hikaru


"Ma'af, tadi ada urusan dulu. Tapi sekarang kan kami sudah disini jadi tidak apa-apakan..." ucap Yamada


"....Ah ya, kami kemobil duluan ya, kasian Yuri soalnya, jaa" setelah itu tanpa menunggu persetujuan member lainnya Yamada segera memapah Chinen menuju mobil.


"Hoi Inoo-chan!" panggil Daiki


"Um?"


"Kau dengar kan tadi?"


"Iya. Yamada memanggil Chinen denga 'Yuri'"


"Ya, dan Chinen berjalan dengan jinjit begitu... Aku jadi curiga....."


"Aku juga....." Inoo dan Daiki langsung menyipitkan mata mereka sambil menatap Yamada dan Chinen yang mulai menjauh


Member lain yang melihatnya hanya memutarkan bola matanya malas. Duo hentaiitu memang sangat kompak kalau mengenai hal-hal berbau hentai seperti itu.


Tapi tiba-tiba seorang member menepuk keningnya ketika ia mengingat sesuatu. Dia adalah Takaki Yuya. Member lain langsung mengalihkan pandangan padanya


"Ada apa Yuy?" tanya Yabu


"Sepertinya dugaanku benar!" jawab Yuya


"maksudnya?"


"Kemarin aku membuat minuman yang aku campur obat perangsang untuk Dai-chan, tapi aku salah membawa minuman dan sepertinya minumanku malah diminum Chinen! Hah! Sialan! Pantas saja semalam Dai-chan biasa saja!" ucap Yuya tanpa sadar. Member lain langsung menjatuhkan rahang mendengar kebakaan si bakaki itu


Berbeda dengan member yang lain, Daiki langsung memeloti Yuya


"APA LU BILANG YUY?!" teriaknya


"He?...."


Loading.........


"A-ah... Anooo... Ah.. Itu... Um..." Yuya menggaruk tengkuknya berusaha mencari jawaban yang pas


"A-aku duluan ya minna!" Yuya segera berlari keluar menghindari Daiki yang sudah beraura menyeramkan


"OI! BAKAKI! TUNGGU LU JANGAN LARI! OI!" Dan Daiki segera mengejarnya


Hah~


Member lain hanya menghela nafas lelah melihat kelakuan kedua pasangan konyol itu.


Ya, kita do'akan saja semoga Yuya bisa selamat dari amukan penguin JUMP itu~


~OWARI~

A Story Without a Tittle

Tittle : A Story Without a Tittle
Author : Ryo_Chii993 (ameliaackermann)
Pair : Takadai

Summary :
Bahkan jika kamu hanyalah Deja-Vu,
aku tetap mencintaimu
Karena perasaan yang tidak bisa dihapus inilah yang membuatku tetap hidup
Bahkan jika mimpi yang belum selesai ini hanya mempermainkanku
Aku tidak peduli, karena seperti ini, aku percaya, aku ingin bertemu denganmu

songfic











Pagi yang tenang, dengan suara-suara burung yang berkicau merdu menandakan hari akan cerah.
Seorang pria didalam sebuah kamar baru saja terbangun. Dengan kesadaran yang baru setengah, tangannya mulai bergerilya menelusuri ranjang yang sedang ia tempati, seperti mencari sesuatu. Namun tangannya tak bisa menemukan apapun, ia pun membuka kelopak matanya, dan benar saja tidak ada apa-apa disamping tempatnya tidur, hanya ada sebuah guling yang memang ia letakkan disana untuk menemaninya tidur.

Hah~

Ia menghembuskan napas kasar. Mimpi itu lagi ternyata. Akhir-akhir ini dia selalu memimpikan hal yang sama, mimpi yang aneh. Ia bermimpi tengah berkencan lalu tidur bersama seseorang, ia merasa sangat bahagia. Namun, ia tidak bisa mengingat rupa orang yang ia kencani didalam mimpinya itu, karena wajahnya terlihat buram.

De-to shitari soineshitari  shiawase ga afurerukedo 
Kimi no kao dake ga  boyake mienai

Dan setiap ia bangun, tangannya selalu langsung mencari sosok itu disamping tempatnya tidur, namun nihil. Ia tak pernah menemukannya. Entah sudah berapa kali ia terbangun karena hal itu.

Me wo samashite yubi de kimi wo sagasu kedo  kuuki tsukamu 
Tomadou asa wo   nando mo mukaeta

Dia hanya bisa melihatnya didalam mimpi, dengan suara dan kehangatannya. Dia bisa mengingat semuanya dengan jelas, tapi kenapa. Orang itu tidak ada dimanapun.

Yume de shika kimi to aenai  koe ya nukumori wa konnani 
Hakkiri shiteru no ni  naze  doko ni mo kimi wa inai

Merasa lelah setiap pagi selalu memikirkan hal itu, Takaki Yuya--nama pria itu--memutuskan untuk bangun dan mulai melakukan aktifitasnya.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~


Pukul dua belas lewat lima belas menit saat waktu makan siang, Yuya memutuskan untuk menghabiskan waktunya di sebuah kafe, ditemani secangkir coffee latte yang ia pesan beberapa menit yang lalu. Yuya termenung, ia mulai hanyut kembali kedalam fikirannya, masih memikirkan sosok seseorang yang selalu hadir didalam mimpinya akhir-akhir ini.

Entah kenapa, ia merasa sudah sangat dekat dengan sosok seseorang didalam mimpinya itu, bahkan sepertinya Yuya sudah jatuh cinta pada sosok itu, gila memang. Namun itu lah kenyataannya. Yuya tidak peduli, kalaupun sosok itu hanyalah sebuah deja-vu ia tetap mencintainya. Kalaupun mimpi yang tak selesai itu hanya mempermainkannya, ia tidak peduli, karena ia percaya seseorang dalam mimpinya itu benar-benar ada. Dan ia ingin menemuinya.

Moshi kimi ga Deja-Vu  datoshitemo I love you 
Kesenai omoiga  boku wo ikashiteru kara 
Mihatenai yume ni  moteasobaretemo 
Kamawanai  konnanimo shinjiteru aitai

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Yuya tengah termenung sendirian diberanda apartemennya, sambil menatap langit yang saat ini terlihat sangat indah dengan ditaburi ribuan bintang dan sang bulan yang terlihat sangat bersinar diatas sana.

Sedari tadi ia menggumamkan sebuah nama.

Daiki

Yang tak lain adalah nama seseorang yang selalu hadir didalam mimpinya, namun sudah hampir seminggu ini ia tidak lagi memimpikannya. Dan jujur saja Yuya sangat merindukannya, Yuya merindukan sosok Daiki-nya, yang selalu menemaninya didalan mimpi.

Kowaresou na yoru ni hitori  kimi no na wo tsubuyaku kedo 
Saikin ja  kimi no yume wo mirenai 

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Di hari minggu pagi, Yuya akhirnya memutuskan untuk keluar apartemen dan berjalan-jalan disekitar taman. Entah kenapa, ia merasa sangat ingin mencari sosok yang selalu ada dimimpinya, tapi bahkan bayangannya pun tak pernah bisa ia temukan.

Tame iki sae tsukenai hodo  machi juu wo sagasu keredo 
Kimi no kage sura  mitsukerarenai yo

Di dalam hati Yuya berharap jika seseorang itu juga mencarinya. Walaupun itu hanya sebuah harapan samar, ia sangat mengharapkannya. Karena entah bagaimana, ia merasa jika hal itu terjadi, masa-masa kelamnya akan segera berakhir, ia akan segera bisa menemui sosok itu.

Moshikashite kimi mo boku wo  sagashitekureteru no kana 
Kasukana kibou sae  mou  jikan no yami ni kiesou.

"Are, Yuya?" seseorang tiba-tiba saja memanggil namanya, membuat Yuya kembali tersadar dari lamunannya. Ia merasa tidak asing dengan suara yang memanggilnya itu, dan benar saja, ketika ia menengok kearah sumber suara ia menemukan Yabu Kota, sahabatnya tengah berdiri beberapa meter dibelakangnya.

"Yabu?"

"Ah ternyata benar kau Yuy. hisashiburi, sudah lama sekali kita tidak bertemu ya" Yabu tersenyum hingga membuat mata kuacinya semakin mengecil, ia lalu mendekati sosok Yuya yang hanya berdiri mematung melihatnya

"Un, Hisashiburi" Yuya hanya membalas seadanya

"Bagaimana kabarmu?" tanya Yabu setelah pria jangkung itu berdiri berhadapan dengan Yuya

"Aku baik, bagaimana denganmu?" Yuya balik bertanya

"Yokatta, aku baik juga. Oh ya, bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol sebentar? Kau ada waktu kan? Kebetulan didekat sini ada kafe milik Hikaru, ayo kita kesana" Dan tanpa menunggu jawaban dari Yuya, Yabu langsung merangkulnya dan membawanya ke Kafe milik sahabat mereka itu.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Tidak lama Yuya dan Yabu akhirnya sampai di sebuah Kafe milik Hikaru. Dan secara kebetulan Inoo Kei sahabat mereka yang lain sekaligus seseorang yang menjabat sebagai kekasih Yabu juga ada disana. Dan pada akhirnya mereka berakhir dengan berkumpul disebuah meja.

"Jadi seperti reuni ya, hehe" Pria cantik disamping Yabu menyeletuk ketika melihat hampir semua sahabatnya itu berkumpul dalam satu meja, tidak salah memang. Karena mereka memang sudah lama tidak berkumpul seperti ini

"Ya, kau benar Inoo-chan. Kalian sangat sibuk sampai tidak punya untuk berkumpul lagi" seorang pria bergingsul bernama Hikaru itu menyahut

"Cih, kau sendiri juga sibuk Hik, jangan selalu menyalahkan kami" Yabu Kota mulai menyahut juga, tak terima dengan ucapan Hikaru

"Hei, aku selalu ada disini. Kalau kalian merindukanku kalian bisa datang kesini, apa susahnya?" jawab Hikaru

"Hei hei sudahlah, kenapa kalian jadi berdebat sih?! Seperti anak kecil saja" Inoo mulai melerai kedua pria yang tengah berdebat kecil itu

"Hmm" Yabu dan Hikaru hanya bergumam lalu mengaduk-aduk minuman mereka masing-masing

"Hah~ kalian tidak pernah berubah! Sejak zaman sekolah sampai sekarang kalau bertemu pasti saja debat" lanjut Inoo, ia mengatakannya sambil tersenyum mengingat masa-masa ketika mereka berlima masih bersekolah. Ah mereka berlima, ia jadi ingat seorang sahabatnya lagi yang saat ini tak ada diantara mereka. Raut wajah Inoo pun berubah sedih saat mengingatnya.

Sedangkan Yuya sedari tadi hanya diam memperhatikan ketiga sahabatnya, namun fikirannya sebenarnya sedang melanglangbuana kesana kemari, masih memikirkan seseorang didalam mimpinya

"Yuy? Kau kenapa sih? Dari tadi bengong terus, Ada yang sedang kau fikirkan?" Hikaru yang pertama menyadari keadaan Yuya akhirnya bertanya membuat Yabu dan Inoo langsung mengalihkan perhatian mereka pada Yuya dan Yuya sendiri pun langsung tersadar dari lamunannya.

"Ada apa Yuya?" Inoo ikut bertanya sedangkan Yabu hanya diam memperhatikan

Yuya balik menatap ketiga sahabatnya, dari tatapan mereka Yuya melihat mereka sangat khawatir padanya, haruskah ia menceritakan masalahnya pada mereka?

"Aku..... Ya, memang ada yang sedang mengganggu fikiranku saat ini" jawab Yuya

"Apa itu? Ceritakan saja pada kami siapa tau kami bisa membantu" ucap Yabu

"Ya, aku setuju dengan Yabu. Ceritakan saja Yuy, dari pada dipendam sendiri" imbuh Hikaru

Hah~

Yuya menghela napas, sepertinya ia harus menceritakan masalahnya pada mereka.

"Beberapa bulan ini, aku bermimpi hal yang aneh..." Yuya memulai ceritanya, sedangkan ketiga sahabatnya hanya mendengarkan

"...Aku mimpi bertemu dengan seseorang, kami berkencan dan melakukan banyak hal. Aku bisa mengingat suaranya, tubuhnya, namun tidak dengan wajahnya. Wajahnya selalu terlihat buram dalam mimpiku. Hal itu membuatku jadi penasaran siapa sebenarnya sosok itu...."

"......Tapi sudah hampir seminggu ini ia tidak datang ke mimpiku lagi, aku jadi semakin penasaran dengan dia. Dan jujur saja aku merasa sangat merindukannya. Kalian mungkin akan menganggapku gila, tapi sepertinya aku jatuh cinta pada sosok dalam mimpiku itu, entah bagaimana tapi aku benar-benar mencintainya. Aku ingin menemuinya" Yuya mengakhiri ceritanya, ia menceritakannya sambil termenung membayangkan suara dan tubuh sosok dalam mimpinya yang masih sangat jelas ia ingat didalam fikirannya

Ketiga sahabatnya masih diam mencerna cerita Yuya. Mereka jadi penasaran, sosok siapa atau seperti apa sebenarnya yang ada di mimpi Yuya yang bisa membuat Yuya jatuh cinta sampai seperti itu?

"Hmm,, aku mau tanya. Apa kau tau siapa nama orang dalam mimpimu itu?" tanya Inoo

"Namanya Daiki" jawab Yuya disertai sebuah senyuman kecil dibibirnya saat menucapkan nama sang pujaan hati.

Mendengar sebuah nama yang diucapkan oleh Yuya membuat ketiga sahabatnya terbelalak, mereka saling menatap satu sama lain seperti sedang mendiskusikan sesuatu, saat mereka yakin fikiran mereka sama, mereka pun slaing mengangguk

"Um, Yuy. Sepertinya kami tau siapa seseorang dalam mimpimu itu" ucap Yabu yang membuat Yuya langsung menatapnya

"eh?"

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Pukul delapan lewat tiga puluh menit Yuya mengendarai mobilnya dijalanan yang sudah mulai sepi. Ia akan menuju ke perfektur Chiba, untuk menemui seseorang yang selama ini selalu menghantuinya dalam mimpi.

Itsuka kanarazu kimi wo mitsukeru yo

Ia dengar dari ketiga sahabatnya tadi siang, seseorang itu ada disana. Percaya tak percaya, ada atau pun tidak nantinya, Yuya tetap akan kesana untuk membuktikannya sendiri. Ia tetap akan menerima dengan lapang dada kalau pun orang itu tidak ada disana. Namun kalau ternyata dia memang ada disana, Yuya berjanji ia tidak akan melepaskan dia dari pelukannya.

Dakishimetara hanasanai kara zettai

Setelah beberapa saat berkendara Yuya akhirnya sampai ditempat yang disebutkan oleh ketiga sahabtnya. Sebuah Rumah Sakit. Ya, mereka bilang orang itu ada di rumah sakit ini.

Yuya menarik napas beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya, ia benar-benar gugup. Setelah beberapa menit ia merasa mulai tenang lalu mulai meninggalkan mobilnya dan masuk kedalam rumah sakit.

Saat berjalan dikoridor rumah sakit, kembali terngiang perkataan sahabat-sahabatnya tadi siang

"Um, Yuy. Sepertinya kami tau siapa sosok dalam mimpimu itu" ucap Yabu

"Eh?" Yuya langsung menatap Yabu terkejut dengan perkataan Yabu barusan

"Kami akan menceritakannya, kami akan menceritakannya. Tapi aku minta kau tetap tenang oke?" ucap Inoo sambil menatap Yuya

"Un, aku akan tenang. Apa sebenanrnya yang ingin kalian ceritakan?" tanya Yuya

"Sosok dalam mimpimu itu, adalah Arioka Daiki" Hikaru membuka suara

"Bagaimana kau bisa tau nama panjangnya Hik?" tanya Yuya heran

"Tolong dengarkan dulu Yuy..." ucap Yabu dan Yuya hanya mengangguk

"Dia adalah Arioka Daiki. Dia kekasihmu. ah bukan, dia calon istrimu sebenarnya. Enam bulan yang lalu, setelah selesai acara lamaran yang kau siapkan disebuah restoran, kau mengantakannya pulang. Namun ditengah jalan kalian mengalami kecelakaan. Kalian berdua koma selama sebulan, setelah sebulan akhirnya kau terbangun namun dengan ingatan yang tidak lengkap akibat benturan keras yang menimpa kepalamu. Kau melupakan beberapa hal termasuk kenanganmu dengannya. Awalnya kau juga melupakan kami namun berangsur-angsur akhirnya kau mampu mengingat kami lagi" cerita Yabu

Yuya diam mendengarkan cerita Yabu

"Bagaimana bisa..." ucap Yuya dengan suara yang lirih

"....Lalu dia bagaimana?" Tanya Yuya

"Setelah sebulan ia tetap tak mau bangun, ia masih betah dengan tidur nyenyaknya. Ia koma" kali ini Inoo yang menjawab, raut wajahnya terlihat sangat sedih menceritakan keadaan sahabatnya itu

"Lalu sekarang dia dimana?!" Tanya Yuya setelah beberapa saat ia terdiam setelah mendengar ucapaan Inoo

"Ia dibawa oleh keluarganya ke kampung halamannya, di Chiba, saat ini ia masih dirawat di salah satu Rumah Sakit di Chiba" jawab Hikaru.

Mendengar jawaban Hikaru Yuya langsung meninggalkan kafe, ia tidak mempedulikan teriakkan teman-temannya yang memanggil-manggil namanya. Ia langsung menyelesaikan semua urusan pekerjaannya agar bisa segera pergi ke Chiba.

Saking sibuknya melamun Yuya sampai tidak sadar jika ia sudah sampai didepan ruangan yang akan ditujunya. Saat menyadarinya Yuya pun langsung menghentikan langkahnya. Ia melihat kedalam ruanganan melalui kaca yang ada di pintu ruangan tersebut, terlihat didalam sana seseorang tengah terbaring lemah dengan beberapa alat tersambung ditubuhnya

Setelah beberapa saat Yuya pun akhirnya memutuskan untuk memasuki ruangan. Ia lalu duduk di samping seseorang yang tengah tertidur itu. Saat melihat wajah orang yang tengah berbaring itu, satu kata yang langsung terlintas difikran Yuya

Cantik

Orang itu benar-benar cantik, walaupun wajahnya terlihat pucat namun itu tak mengurangi kecantikannya.

Yuya menyentuh tangan Daiki lalu menciumnya, tanpa sadar air mata mengalir ke pipinya. Sekarang Yuya yakin orang yang tengah berbaring ini benarcbenar sosok yang selama ini selalu hadir dalam mimpinya, ia sangat yakin. Karena ketika melihat Daiki wajah seseorang dalam mimpinya yang ada difikrannya akhirnya terlihat jelas.

Yuya tidak bisa membendung tangisannya lagi. Ia menagis sejadi-jadinya. Yuya benar-benar merasa bersalah, bagaimana bisa ia melupakan seseorang yang sangat penting dalam hidupnya?! Ia benar-benar bodoh! Tapi ia juga merasa bahagia, karena akhirnya ia bisa bertemu dengannya lagi. Walau dengan keadaan seperti ini.

Yuya lalu berdiri dan mencondongkan tubuhnya kearah Daiki, ia mengecup sayang kening Daiki sambil bergumam

"Tolong tunggu aku. Aku akan menemuimu sekarang, Oyasumi"

Mattetene  ima kara ai ni yuku  oyasumi

~END~

Chine-tan no Tanjoubi

Tittle : Chine-tan no tanjoubi
Pair : Yamachii
Gendre : romance, smut, yaoi, nc-17
Author : ryo_chii993 (ameliaackermann)

Warning!!!
-Cerita ini mengandung unsur boyxboy dan ada scene nc-17! Jadi dimohon yang tidak menyukai gendre tersebut dan belum berumur 17 untuk mengklik tombol kembali:) karna saya tidak akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu:3
-ini cerita pertama kalinya saya membuat enceh jadi ceritanya mungkin tak akan sesuai dengan ekspektasi kalian.

.
.
.





Hallo~

Yamada Ryosuke disini~
Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diriku panjang lebar, karna aku yakin kalian semua pasti sudah mengenalku. Mengingat aku inikan sangat terkenal, hehe.

Saat ini aku sedang berada di kamar hotel di Osaka, aku dan teman-temanku yang tergabung dalam grup Hey! Say! JUMP baru saja menyelesaikan konser hari pertama kami di Osaka. Besok kami masih ada konser disini jadi saat ini kami akan beristirahat sebelum besok melanjutkan konser kembali.

Nah karna saat ini aku sedang senggang aku dengan baik hati akan berbagi sebuah cerita kepada kalian semua. Cerita apa? Kegiatan yang aku lakukan dengan kekasihku, Chinen Yuri, dimalam ulang tahunnya dua hari yang lalu.

Bahagia kan kalian aku mau menceritakannya? Huh.

Yah, tidak apa-apa lah, sekali-kali membuat kalian bahagia.
baiklah aku tidak akan berlama-lama.
Tapi sebelumnya aku ingin bilang, tolong jangan beritahu Yuri kalau aku menceritakan ini oke~

Baiklah langsung saja.......
.
.
.
.
.

Flashback on

"Ayolah Yuriiiiiiii~"

"Tidak bisa Ryosuke, besok kita kan sudah harus ke Osaka, aku harus menyiapkan barang-barangku"

"Aku tidak bisa kau bohongi Yuri~ aku tau kau sudah menyiapkan semuanya kemarin, besok kita tinggal ke apatomu dulu saja sebelum berangkat, jadi malam ini kau harus menginap di apatoku yaa yaa yaaaaaaaa"

Saat ini aku dan Yuriku sedang berada diruang latihan, hanya kami berdua saja yang masih ada disini. Member lain sudah pulang sejak sekitar dua puluh menit yang lalu.

Dan seperti yang kalian lihat, aku sedang membujuk Yuriku agar menginap di apatoku malam ini.
Besok adalah hari ulang tahunnya, karna itu aku ingin dia menginap diapatoku. Aku ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan kata "Selamat ulang tahun" padanya pada tengah malam nanti. Kalau kalian tanya kenapa tidak lewat telepon saja, aku akan menjawab lantang bahwa aku tidak mau! Kalau hanya mengucapkannya lewat telepon lalu apa bedanya aku dengan member lain, atau para fans diluaran sana?. Aku tidak mau seperti itu! Aku kan kekasihnya, jadi aku harus lebih spesial! aku ingin mengucapkannya langsung dihadapannya! Karna itu aku memaksanya untuk menginap diapatoku. Walaupun sebenarnya ada hal lain juga yang ingin aku lakukan dengannya sih, hehe.

Tapi kekasihku ini sangatlah pintar, ah atau lebih tepatnya sangat cerdas. Jadi sepertinya dia sudah tau motifku yang sebenarnya. Tapi bukan Yamada Ryosuke namanya kalau harus mengalah dengan cepat.

"Ayolah Yuriiii, aku ingin berangkat bersamamu besok. Jadi menginaplah diapatoku malam ini lalu besok kita berangkat bersama. yaaa?" ucapku masih terus membujuknya

"Hah~ baiklah, tapi tidak ada acara 'main game' oke? Besok ada rehearsal dan lusa kita harus konser, aku tidak mau nanti jadi para fans jadi curiga karna aku susah berjalan!"

Yatta! Akhirnya dia luluh juga hehehe.

"Iya iya aku janji, kalau begitu ayo kita pulang"

Setelah mengatakan itu aku pun berdiri dan menggandeng tangannya keluar ruangan menuju apatoku.
Apa kalian pikir ini sudah selesai?
Oh kalian terlalu cepat menebak rupanya, ini bahkan belum dimulai sama sekali hahaha.

~~~

Pukul 09:15 malam kami baru saja selesai makan malam lalu kami memutuskan untuk menonton televisi dulu sebelum tidur.

Kami duduk bersebelahan disebuah sofa diruang tamu, dengan posisi kepalanya bersandar dipundakku dan tanganku yang merangkulnya. Tapi tanganku tidak diam saja, aku mulai mencubit-cubit pipinya. Yuri sekarang mulai gemuk pipinya juga jadi chubby membuat aku jadi gemas setiap melihatnya. Mungkin itu juga yang dia rasakan saat melihatku dulu ya hahaha.

"Ryosuke~ ish sakit!" ucap Yuri lalu menangkap tangan kananku yang sedang mencubit-cubit gemas pipinya

"Abis pipi kamu lucu Yur, kaya bakpao hahaha"

"Ihh, emangnya pipi kamu enggak?!"

"enggaklah, pipi aku tirus sekarang, jadi lebih ganteng" ucapku sambil menggerlingkan mata menggodanya

"Idih, narsis!"

"Emang kenyataannya kok, buktinya kamu aja cinta banget sama aku"

"Iih narsis banget si kamu! Nih liat nih pipi kamu tuh juga tembem tau!" ucap Yuri sambil merubah posisi menghadapku lalu mencubit kedua pipiku

Karna itu, posisi wajah kami pun menjadi sangat dekat, dan entah kenapa mataku langsung terfokus pada bibirnya. Dan tanpa menunggu lama aku langsung menangkap tangannya yang ada dipipiku lalu mencium bibirnya.

Aku sangat merindukannya. Aku benar-benar merindukannya! Akhir-akhir ini kami sangat jarang menghabiskan waktu berdua karna kesibukan masing-masing dan juga harus melakukan konser diberbagai tempat dengan grup kami. Bahkan Yuri sempat keluar negeri selama beberapa hari untuk sebuah pekerjaan, pada saat itu aku merasa hampir gila, walaupun setiap hari aku selalu menghubunginya lewat telepon ataupun video call tapi tetap saja itu tidak bisa mengurangi rasa rinduku padanya, sepertinya aku benar-benar sudah kecanduan dia.

Kecupanku dibibirnya mulai intens, aku mulai menghisap bibir bawahnya lalu sedikit menggigitnya untuk meminta jalan masuk untuk lidahku. Tak lama Yuri pun sedikit membuka mulutnya dan tanpa segan aku pun langsung memasukkan lidahku dan mulai mengeksplor bagian dalam mulutnya. Lalu mengajak lidahnya untuk bergulat dengan lidahku.

"Nggghh"

Lenguhan mulai keluar dari bibirnya saat ciuman kami semakin dalam, membuat libidoku naik seketika.

Entah sudah berapa lama kami berciuman bahkan tanpa sadar posisi kami pun telah berubah, saat ini posisi Yuri tidur terlentang diatas sofa dan aku berada diatasnya. Kalau tidak ingat kami masih butuh bernafas rasanya aku tidak mau melepaskan bibirnya, aku ingin terus menciumnya. Namun pukulan didadaku yang semakin keras yang menandakan Yuri sudah hampir kehabisan nafas begitu pula denganku sebenarnya, akhirnya memaksaku untuk melepaskan pagutan kami.

"Ha... Ha... Kau... Ha... Ingin mati?!" Yuri berujar dengan nafas yang masih tersenggal-senggal.

Wajahnya yang memerah dan bibirnya yang membengkak karna ulahku barusan membuatnya terlihat sangat seksi.

"Kalau matinya denganmu aku rela" ucapku sambil tersenyum dan mengelap saliva yang masih tersisa dibibirnya dengan ibu jariku.

"Kau gila!"

"Ya, aku memang gila. Aku tergila gila padamu"

"Jangan menggombal! Sudah sana menyingkir dari tubuhku" ucapnya sambil mencoba mendorong dadaku. Tapi aku tak bergeming, walaupun kami sama-sama laki-laki tapi tenaganya sangat jauh lebih lemah dariku. Oh ayolah, aku dominannya disini jadi aku tidak mungkin kalah!

"Yuri.... Ayo kita lanjutkan yang barusan" ucapku sambil menatapnya dalam-dalam.

"Jangan bercanda Ryosuke! Sudah sana menyingkir dari tubuhku!" Dia menjawab sambil berusaha menghindari tatapan mataku dan masih terus mencoba mendorong tubuhku agar berpindah dari atas tubuhnya, tapi aku masih tak bergerak sedikitpun.

Aku mulai mendekatkan wajahku dengan wajahnya lagi, lalu menyatukan kening kami, dan aku juga masih terus menatapnya intens

"Aku tidak bercanda Yuri, aku serius. Aku ingin melakukannya"

"Tidak Ryosuke!"

"Kenapa? Apa kau tidak mau lagi melakukannya denganku? Kau tidak merindukanku?"

Mendengar pertanyaanku itu Yuri akhirnya balas menatap mataku.

"Bukan begitu....."

"Aku tau kau juga ingin melakukannya. Adikmu dibawah sana tidak bisa berbohong~" Aku berbisik tepat didepan telinganya. Lalu tanganku tanpa segan langsung mengelus dan meremas gundukan yang mulai membesar ditengah celananya

"Nnggh ahh"

Yuri mulai melenguh dan mendesah menikmati permainan tanganku.

"nngghh ta..tapi.. Lus... Ah.. Lusa.. Kithha.. Adah... Konserhhh.. ngg.. ah.."

Dia berusaha bicara ditengah-tengah acara mendesahnya, sedangkan aku sendiri sibuk memainkan adiknya dibawah sana dan juga mulai mengulum daun telinganya. Membuatnya semakin gelinjangan dibawah kungkunganku.

"Aku janji aku hanya akan melakukannya sekali malam ini, aku akan bermain lembut dan menggunakan lubricant banyak-banyak agar tak terasa sakit" ucapku meyakinkannya dan menghentikan permainan tangan dan mulutku pada tubuhnya.

"Ka...kau janji hanya akan melakukannya sekali?!" Yuri bertanya padaku sambil menatap mataku, matanya terlihat sayu. Sepertinya nafsu mulai menguasai tubuhnya.

"Iya, aku janji" ucapku sambil tersenyum dan mengelap peluh yang mulai membasahi keningnya.

Kali ini aku benar-benar berjanji, karna aku sangat mencintainya. Aku tidak mau menyakitinya.

Yuri hanya mengangguk lemas sebagai jawabannya.

"Baiklah, ayo kita lanjutkan ini dikamar tuan putri" ucapku dan langsung menggendongnya menuju kamar

.
.
.

Setelah sampai dikamar aku langsung menidurkan Yuri diatas kasur, dia terlihat sudah lemas, haha padahal permainan belum dimulai.

"Tunggu sebentar ya aku akan mengambil lubricant nya dulu" ucapku lalu berjalan menuju laci disamping tempat tidur dan mengambil sebotol lubricant yang memang selalu aku simpan disana. Setelah itu aku langsung menghampiri Yuri kembali.

"Hei kau sudah lelah sayang? Padahal permainannya saja belum dimulai" ucapku sambil duduk disampingnya lalu mengelus puncak kepalanya

"Jangan banyak tanya! Sudah ayo cepat selesaikan, aku gak mau kalau besok sampai telat!"

"Wih kamu udah kangen banget ya sama adik aku? Hehehe. Sabar dong, aku kan harus nyiapin kamu dulu. Emang kamu mau main kering?"

"GAK SUDI!!!!"

"Nah makanya, sabar ya"

"Hmm"

Setelah itu aku pun mulai menaiki kasur dan memposisikan diriku diatasnya, lalu tanpa basa basi kembali aku raup bibir ranumnya, sedangkan tanganku mulai melepaskan kancing-kancing bajunya.

Setelah beberapa saat aku pun melepaskan ciuman kami dan mulai berpindah menelusuri leher dan menuju dada nya. Aku hanya sekedar mengecup dan menjilatnya saja, karna aku tidak mau meninggalkan bekas yang mencurigakan walaupun sebenarnya ingin. Aku ingin memberinya tanda agar semua orang tau bahwa Chinen Yuri adalah milik Yamada Ryosuke! Tapi aku sadar hal itu hanya akan menghancurkan karirnya.

Aku sedikit bermain-main dengan dua benjolan kecil didadanya, itu sangat imut. Semua yang ada ditubuh Yuri memang imut sih. Aku mengemut puting kanannya sedangkan yang kiri aku cubit-cubit gemas.

"ahh.. Ahhh... Ryoss...sukeeehh nghh"

Yuri mulai mendesah. Suaranya benar-benar indah. Walaupun sudah berkali-kali mendengarnya aku tetap menyukainya.

Setelah aku rasa cukup bermain diarea dada, aku mulai berpindah menuju bagian perut. Aku sedikit lama bertahan disana sebelum akhirnya berpindah lagi. Dan sampai lah aku didepan gundukan ditengah selangkangan Yuri yang masih terbalut celana pendek dan celana dalamnya.

Tanpa aba-aba aku langsung membukanya dan muncullah adik Yuri yang sudah tegak berdiri. Tanpa segan aku pun mulai menjilat dan mengemutnya seperti anak kecil yang sedang memakan permen. Dan tak lupa aku juga memainkan dua bola kembarnya. Aku remas-remas dan aku pantul-pantulkan. Membuat Yuri tak berhenti mendesah.

"A..AHHH RYOO!!.. NGGHH...AHHH..."

Setelah puas bermain-main dengan Junior Yuri, aku pun melepaskannya. Karna aku tidak mau dia keluar terlebih dahulu, aku ingin kita mencapai puncaknya bersama-sama.
Aku kembali ke posisiku awalku yaitu diatas tubuh Yuri.

"Sayang?"

"Umh?"

"Tolong bantu aku melepas pakaikanku ya?" pintaku dan Yuri hanya mengangguk lemah dan mulai merubah posisi menjadi duduk.

Dia mulai membuka pakaianku sedangkan aku hanya diam memperhatikannya, hingga sampai dia mulai membuka celana sekaligis CD ku dia tiba-tiba mengumpat

"Shit!"

"Hmm? Kenapa?"

"Perasaanku saja atau memang itu semakin membesar?!" ucap Yuri sambil melirik bagian kejantananku yang sudah tegak berdiri.

"Hahaha, entahlah. Mungkin efek karna dia sangat merindukan rumahnya" jawabku dan tiba-tiba saja wajahnya memerah.

Aku mengecup bibirnya singkat lalu mulai memposisikan diri ditengah-tengah kaki Yuri yang sedikit aku lebarkan.

"Aku akan menyiapkanmu sekarang, rileks ya" ucapku dan Yuri hanya menggangguk sebagai jawabannya

Aku mulai mengeluarkan cairan lubricant lalu melumuri lubang Yuri dan juga jari-jariku. Setelah cukup aku pun mulai memasukkannya, dimulai dari jari yang paling kecil, jari kelingking.
Ini memang bukan yang pertama kalinya kita bermain, tapi lubang Yuri masih tetap kecil seperti dulu, karna itu aku harus berhati-hati agar tak menyakitinya. Tadi aku sudah berjanji untuk tidak menyakitinya kan?

Aku mulai memaju mundurkan jariku didalamnya, setelah beberapa saat aku pun mengganti jari menjadi jari telunjuk dan jari tengah lalu membuat gerakan seperti gunting didalam sana, untuk melebarkannya.

"Nggh....umhh..ahh"

"Enak?" tanyaku yang tentu saja tidak mendapat jawaban karna Yuri masih sibuk mendesah dan melenguh sambil menutup matanya dan meremas seprei. Aku hanya menyeringai melihatnya.

Setelah beberapa saat terus mengulangi gerakan yang sama dan merasa sudah cukup aku pun mengeluarkan jari-jariku. Untuk segera digantikan oleh kejantananku yang sudah berkedut nyeri meminta jatahnya. Tentu saja aku tidak lupa untuk melumurinya dengan lubricant juga, setelah selesai aku lalu memposisikannya didepan lubang Yuri.

"Yuri, aku akan mulai sekarang. Kau harus tetap rileks oke? Aku janji tidak akan menyakitimu" sekali lagi Yuri hanya mengangguk sebagai jawabannya dan aku pun mulai memasukkan kejantananku

Tak begitu sulit, karna aku sudah sedikit melebarkannya tadi dan juga menggunakan banyak lubricant sehingga dalam sekali hentakkan kejantananku sudah berada didalam Yuri seutuhnya.

"ARGHHNGGG....HMMMHH"

"Yuri? Hei, tidak usah ditahan. Keluarkan saja suaramu, aku menyukainya kok hehe--"

"hmm...mmmhhh"

"--Hei? Apa sakit? Tenang aku tidak akan bergerak dulu sampai kau terbiasa"

Aku hanya diam hingga beberapa saat, menunggu Yuri tenang dan mulai terbiasa.

"Ka-kau bolehh mulai Ryo"

"Kau yakin?"

"un"

"Baiklah"

Setelah mendapat persetujuan dari Yuri aku pun mulai menggerakkan pinggulku maju mundur dengan tempo yang sangat lambat.

"Hnngggh... Ahhh... Ngghhh..."

Namun setelah beberapa saag aku pun mulai mempercepatnya.

"HNgghh... AAAHHH... MMHHH"

"Hmm.. Disanah kau rupanyahhh hhh" aku menyeringai ketika akhirnya menemukan sweetspot Yuri lalu mulai menghentak kebagian tersebut berkali-kali.

"ahhh... Ahhh.. Mmhhh.. Ahh" membuat desahan Yuri semakin menjadi-jadi

"Pe-per...ngghh.. Percepat ryoohhh hah"

Mendengar permintaannya itu dengan senang hati aku pun langsung mengabulkannya. Dan mempercepat tempo maju-mundurku

Semakin lama permainan kami semakin terasa panas, suara decitan ranjang dan desahan Yuri yang menggema memenuhi ruangan kamar membuatku semakin semangat.

Semakin lama tempoku pun semakin cepat. Hingga aku merasa sebentar lagi aku akan mencapai klimaks

"Ahhh..ahhh.. Ryoohhhnngh.. Akuhh... A.. Akuh.. Inginhhh.  Keluarhh.. Ahhh"

"Ki...kitah keluarkan bersama.. Hah.."

Aku semakin mempercepat tempo genjotanku. Hingga akhirnya aku dan Yuri mencapai puncak bersama.

"Ahhh... Hmmm... Ngghhhh!!"

"ahh.. Hah... Ha.."

Aku langsung menahan tubuhku dengan bertumpu pada kedua tanganku agar tak limbung dan menindih tubuh Yuri yang berada dibawahku.
Ku lihat Yuri masih mengatur nafasnya yang masih tersenggal-tersenggal. Wajahnya yang memerah dan dipenuhi peluh begini terlihat sangat cantik menurutku, aku jadi merasa jatuh cinta lagi padanya. Hahaha, dia memang selalu bisa membuatku jatuh cinta lagi dan lagi setiap melihatnya.

Setelah beberapa saat diam dengan posisi seperti ini, aku merasa mulai pegal. Aku lalu menggulingkan diriku kesamping lalu membawa Yuri kedalam pelukanku.

"Kau lelah sayang?" tanyaku sambil menciummi keningnya dan mengelus-elus rambut hitamnya.

"Unh"

Drrrt drrt drrrt

Tiba-tiba saja ponselku yang aku letakkan diatas berbunyi. Ah sepertinya sudah waktunya.
Ya, aku menyetel alarm di handphoneku tepat pukul 00:00. Aku tidak menyangka momennya akan tepat seperti ini haha.

"Selamat ulang tahun sayangku~ Kekasih mungilku, pengguna terbesar semua uang-uangku hahaha. Aku selalu mencintaimu" ucapku sambil menatap Yuri yang berada dipelukanku, dan dia balas menatapku.

"Aku tau. Terimakasih dompetku, atmku, penafkahku~ haha. aku juga mencintaimu" jawabnya dengan suara yang masih serak lalu tersenyum kecil.

"Hmm--"

"--Sooo.... May i do it again?"

"NO!!--"

"--BIG NO Ryosuke! Oh ayolah~ aku sudah lelah~" Yuri langsung mendelik dan sedikit menjauhkan tubuhnya dariku sambil memohon, haha dia itu lucu sekali.

"Hahaha, iya iya aku tau. Aku hanya bercanda sayang~" ucapku lalu mencubit hidung mancungnya

"Kalau begitu sekarang kita tidur ya? Besok kita harus bangun pagi-pagi"

"Un"

Setelah itu aku pun kembali menariknya kedalam pelukanku dan menyelimuti tubuh polos kami dengan selimut lalu segera menuju alam mimpi.

Flashback off

.
.
.

Jadi.... Yah, begitulah.
Tahun ini kami tidak membuat perayaan apa-apa. Kami hanya menghabiskan waktu singkat kami berdua sambil 'bermain game' di apatoku, hahaha.

"Ryosuke? Kau sedang apa? Tidak tidur?"

Ah itu suara Yuri, dia baru saja selesai mandi. Oh apa aku belum cerita? Disini kami hanya dipesankan empat kamar, jadi satu kamar ditempati oleh dua orang. Dan beruntungnya kali ini aku bisa satu kamar dengan Yuri.

"Um, belum, aku belum tidur"

"Cepatlah tidur Ryosuke, besok kita masih ada konser"

"Iya, sebentar lagi aku tidur. Kau duluan saja"

"Um, baiklah, aku tunggu"

Baiklah sepertinya aku sudah selesai menceritakan semuanya. Aku tidak mau membuat Yuri menunggu lama dan membuatnya marah, jadi aku harus segera tidur~
Sekali lagi aku ingatkan, jangan beritahu Yuri kalau aku menceritakan itu oke?. Tapi tolong sebarkan saja pada semua orang agar mereka tau bahwa Chinen Yuri adalah milik Yamada Ryosuke!
Oh ya tolong doakan juga semoga aku bisa melanjutkan permainan kami dua hari yang lalu itu malam ini ya hahaha.

Jya, mata ne~


-END-














Yatta akhirnya selesai juga:' setelah dua hari akhirnya cerita ini selesai jugaXD ini aku buat untuk merayakan ultah Ichibanku, Chinen Yuri yang berulang tahun beberapa hari yang lauXD
Aku tau ini telat bangetX'D tapi aku tetep mau ngucapin SELAMAT ULANG TAHUN BUAT ICHIBANKU TERCINTA💖 CHINEN YURINYA YAMADA RYOSUKE!XD Happy birthday Chii😘 semoga semak8n imut dan selalu disayang semua orang ya~

Hey Say Meme

Halo~

Karna gk ada kerjaan aku akhirnya ngedit beberapa foto member Hey! Say! JUMP jadi sebuah memeXD walau garing semoga bisa sedikit menghibur:')
Oke ini dia meme buatanku~

Dozou~

Nyeseg sih yah YamXD yang sabar yakXD

Jomblo mah bebas~ XD eh inget Chii Yam!

Jangan macem-macem sama Chinen kalo gk mau kena rojok(?) abangnya a.k.a yuttiang a.k.a Yuto okeyXD

Akhirnya Chii masakin makanan buat YamaXD

Coming soon, live action "Attack on Yuttitan"XD

Hayoloh disindir istri aslinya YamaXD

Okelah segitu dulu aja ya, nanti kalo ada lagi aku post lagi, inooo~ okey:3

See you

Jouken Hansa


Tittle : Jouken Hansa
Genre : Hurt/comfort, Romance, Comedy(?)
Pair : Yabunoo slight other pair in HSJ
Author : ameliaackermann
Summary : Pertengkaran yang terjadi diantara Yabu dan Inoo yang disebabkan oleh fanservice yang dilakukan oleh Inoo dengan salah seorang member di solo song nya yaitu "Jouken Hansa"





A/N : Cerita ini mengandung unsur bxb, buat yang gk suka
bisa langsung pencet(?) tombol kembali aja ya~

Douzou~

Hey! Say! JUMP adalah salah satu idol group asal Jepang yang beranggotakan 9 orang pria besutan Jhonny's & Associates yang tahun ini telah memasuki tahun ke 11 sejak debut. Dan seperti biasa, setiap tahunnya mereka selalu mengadakan sebuah konser dibeberapa prefektur di Jepang, namun konser tahun ini hanya dilakukan oleh 8 orang member karna salah satu dari mereka sedang vakum untuk meneruskan study nya diluar negeri. Dan hari ini mereka baru saja menyelesaikan Konser di prefektur Shizuoka.

Saat ini beberapa member sedang berada disebuah ruangan di Backstage, sebut saja Yamada, Chinen, Yuto dan Hikaru. Mereka sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Yuto yang sedang fokus menatap layar handphonenya, Hikaru yang sedang mengemasi beberapa barangnya dan pasangan paling manis--begitulah mereka dikenal oleh para staf, member dan juga fans--Yamachii sedang duduk berdua sambil memakan buah strawberry disebuah sofa yang ada diruangan tersebut.

"INOO-CHAN!! KUBILANG AKU INGIN BICARA!! TAK BISAKAH KAU MENDENGARKANKU SEBENTAR?!"

Sebuah suara yang lebih terdengar seperti teriakkan menggema diikuti dengan masuknya seorang pemuda cantik yang dipanggil Inoo disusul pemuda lain bernama Yabu.

"Sudah kubilang itu hanya fanservice!! Mau sampai kapan kau terus membahasnya Yabu!" ucap Inoo cuek sambil membereskan dan memasukkan barang-barangnya kedalam tas.

"Dan aku juga sudah bilang kalau itu terlalu berlebihan untuk sebuah fanservice Inoo-chan!!" Yabu kembali membalas.

Hal ini sudah menjadi pemandangan biasa bagi para member dalam beberapa bulan terakhir. Pertengkaran Yabunoo--Pasangan yang dielu-elukan sebagai Papa dan Mama JUMP--ini sebenarnya memang sudah sering terjadi beberapa tahun terakhir namun pertengkaran mereka baru memuncak beberapa bulan ini, ketika Konser tahun ini berlangsung. Alasannya tentu saja karna fanservice yang dilakukan oleh Inoo dan salah satu member--Takaki Yuya--dalam solo songnya yaitu Jouken Hansa yang begitu menarik perhatian. Hal itu membuat Yabu yang biasanya kalem menjadi murka. Bagaimana tidak, dalam fanservicenya Inoo dan Yuya bahkan tak segan untuk saling menyentuh bahkan memeluk satu sama lain diatas panggung.

"Bukankah kau juga sering melakukannya dengan para member lain?! Dengan Hikaru?!" ucap Inoo kembali masih dengan kesibukkannya membereskan barang-barangnya, dan tanpa menatap Yabu sedikitpun.

"Tapi aku tak pernah separah itu!!" elak Yabu

"Oh ya?! Apa menurutmu begitu?!"
Ucap Inoo yang kali ini mengalihkan pandangannya pada Yabu

"Tentu! Dan lagi pula, kau bahkan sekarang jadi lebih sering bersama Yuya ketika di backstage!"

"Itu hanya perasaanmu saja" ucap Inoo kembali mengalihkan pandangannya dari Yabu.

"BERHENTILAH MENJADI UKE MURAHAN YANG SELALU MAU DISENTUH SEME LAIN INOO! KAU ITU SUDAH PUNYA SEME!" bentak Yabu yang sudah tak bisa mengontrol ucapannya lagi karna terlalu emosi

"APA KAU BILANG?!"
Inoo yang tak terima langsung mengalihkan pandangannya pada Yabu dan balas berteriak

"FANSERVICEMU ITU TERLALU BERLEBIHAN!!!"

"KUBILANG ITU HANYA FANSERVICE! BERSIKAPLAH PROFESIONAL! BUKANKAH ITU YANG SELALU KAU KATAKAN PADAKU?! TERAPKANLAH ITU PADA DIRIMU SENDIRI YABU KOUTA!!......"

".......AKU BEGINI JUGA KARNA KAU! KAU YANG TERLALU SIBUK MEMBUAT FANSERVICE YABUHIKA! PAIR KEBANGGAANMU! APA KAU PERNAH BAHKAN SEDIKIT SAJA MEMIKIRKAN PERASAANKU KETIKA MELAKUKAN FANSERVICE DIATAS PANGGUNG TEPAT DIDEPANKU?! KAU BAHKAN TAK PERNAH MELIRIKKU SEDIKITPUN! BAHKAN KETIKA DIBACKSTAGE PUN KAU BERSIKAP SEOLAH TAK TERJADI APA-APA! KAU TAK PERNAH MEMINTA MAAF BAHKAN SEPERTINYA KAU TAK MERASA BERSALAH SEDIKITPUN! kau seolah-olah berpikir "ah tidak apa-apa Inoo-chan pasti mengerti kalau itu hanya fanservice"! padahal aku selalu menunggu kau mendekatiku lalu meyakinkanku, tapi KAU! TIDAK.PERNAH.MELAKUKAN.ITU! DAN KAU TIDAK TAU BAGAIMANA AKU MATI-MATIAN MEYAKINKAN DIRIKU SENDIRI UNTUK TETAP PERCAYA PADAMU!!"

Mereka berakhir dengan saling berteriak, member yang ada diruangan tersebut akan melerai ketika tiba-tiba pintu terbuka kembali dan muncullah Manajer mereka.

"Ada apa ini?" tanyanya

"Manajer-san aku ijin pulang duluan" ucap Inoo dan tanpa menunggu persetujuan dari sang manajer ia langsung keluar ruangan

Sedangkan Yabu masih mematung mencerna kalimat-kalimat Inoo.

"Aku akan menyusul Inoo-chan. aku pulang duluan ya Ryosuke, minna." ucap Chinen lalu segera mengambil tasnya dan menyusul Inoo setelah mendapatkan angggukan dan kata "hati-hati" dari Yamada dan orang-orang yang berada disana.

Sedangkan Takaki dan Daiki yang baru kembali setelah makan siang sedikit aneh melihat Inoo yang keluar ruangan dengan sedikit terburu-buru dan disusul oleh Chinen yang berlari mengejarnya.

Mereka pun segera memasuki ruangan tempat keluarnya Inoo dan Chinen tadi.

"Ada apa ini?! Kenapa Inoo-chan dan Chinen keluar dengan terburu-buru?! Mereka mau kemana?" tanya Daiki beruntun ketika baru saja memasuki ruangan

Saat matanya menelusuri ruangan ia melihat Yabu yang terduduk lemas disebuah sofa sambil bersandar dan menegadahkan kepalanya dan menutupi wajahnya dengan tangan kirinya. Daiki pun segera memahami situasinya "Mereka pasti bertengkar lagi" ucap Daiki dalam hati.

"Mereka pulang duluan" ucap Yamada akhirnya setelah beberapa saat bungkam dan tidak ada yang menjawab pertanyaan Daiki.

"Astaga, dalam keadaan begitu akan berbahaya kalau Inoo-chan menyetir sendiri, Chinen juga tak bisa menyetir. Aku akan menyusul mereka. Yuyan, minna aku juga pulang duluan ya, jyaa" Ucap Daiki dan langsung menyambar tasnya dan berlari keluar ruangan menyusul Inoo dan Chinen.

~~~


Sudah seminggu semenjak pertengkaran antara Yabu dan Inoo terjadi, dan sampai saat ini hubungan mereka masih belum membaik. Mereka saling menghindari satu sama lain bahkan tak pernah bertegur sapa. Walaupun mereka masih bersikap profesional dengan tak menunjukkannya ketika sedang bekerja, didepan kamera dan didepan para fansnya. Namun tetap saja, keadaan seperti ini membuat para member lain tak nyaman. Terutama seorang member bernama Takaki Yuya yang merasa menjadi alasan sepasang kekasih itu bertengkar hebat seminggu yang lalu. Karna merasa sudah terlalu lama melihat Yabu dan Inoo yang tak kunjung membaik ia pun berencana untuk membantu dengan berbicara baik-baik pada Yabu.

Akhirnya ia pun berhasil mengajak Yabu bicara berdua di sebuah kafe didekat Jimusho setelah menyelesaikan rehearsel konser mereka.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Yabu setelah beberapa saat mereka hanya saling diam ditempat.

"Aku tidak pandai basa basi, jadi aku akan langsung keintinya saja. Aku minta ma'af karna sudah menjadi penyebab hubunganmu dengan Inoo-chan menjadi seperti ini...." ucap Yuya

"Hmm,, tak apa. Ini bukan salahmu. Mungkin kita memang sudah tak cocok, mungkin dia sudah bosan denganku dan tak mencintaiku lagi"

"heh, kau bodoh kalau kau berfikir begitu Yab." ucap Yuya yang tak setuju dengan perkataan Yabu

"Maksudmu?" ucap Yabu yang tak memahami maksud ucapan Yuya

"Kau tau kan akhir-akhir ini aku sering bersama Inoo-chan, kadang dengan Daiki juga sih. Dan kami sering bertukar cerita...."

"Tunggu dulu, apa maksudmu menceritakan itu?! Kau ingin bilang bahwa sekarang kalian jadi dekat dan saling menyukai?!" potong Yabu sebelum Yuya menyelesaikan kalimatnya

"....ck! Biarkan aku bercerita sampai selesai dulu! Kau ini kenapa jadi sensi begini sih Yab"

"Hmm,, lanjutkan"

"sampai mana tadi? Ah iya. Kami jadi sering bertukar cerita. Dan kau tahu, dia selalu menceritakan tentangmu. Yabu yang keren, Yabu yang hebat, Yabu yang tidak peka, Yabu yang cuek tapi posesif, dan masih banyak lagi. Selalu. Hal itu selalu dia ceritakan setiap kali kami sedang bersama, sesekali dia memang suka mengeluh tentangmu yang tidak peka namun dia lebih sering menyeritakan bahwa ia sangat bahagia dan beruntung mempunyai kekasih sepertimu. Dan memberitahuku bahwa ia sangat mencintaimu Yab, bahkan walaupun sekarang kau jadi lebih cuek baik didepan kamera maupun di belakang kamera, ia tetap mencintaimu. Ia sangat mencintaimu Yab. Jadi menurutku kau terlalu bodoh kalau menganggapnya bosan denganmu dan sudah tak mencintaimu lagi" ucap Yuya menjelaskan

"........" Yabu hanya diam sambil mencoba mencerna semua perkataan Yuya

"Dia itu cantik dan juga baik Yab, banyak seme diluar sana yang siap menjadi kekasihnya atau mungkin selingkuhannya kalau saja dia mau. Tapi nyatanya ia tetap setia padamu. Aku minta maaf sebelumnya, tapi jujur saja aku juga salah satunya. Aku bahkan pernah mengajaknya kencan dan menjadi kekasihku, namun ia menolakku mentah-mentah. Dan setelah itu aku sadar, didunia ini selalu ada yang lebih dari kekasih kita, itu artinya ada banyak juga yang lebih dari kita dan sebuah hubungan diuji ketika kita menemukan seseorang yang lebih dari kekasih kita, apakah kita akan bertahan dengan kekasih kita atau malah akan berpaling?. Dan aku juga sadar diluar sana pasti banyak seme yang jauh lebih baik dariku yang mau menjadi kekasih Dai-chan, namun ia tetap bertahan denganku, karna itu aku berfikir lagi, kalau Dai-chan bisa setia pada seseorang yang banyak kekurangan sepertiku kenapa aku tak bisa. Sejak itu aku sudah bersumpah pada diriku sendiri kalau aku akan selalu setia pada Dai-chan, karna aku sadar aku sangat mencintainya dan tak mau kehilangannya..."

"....Itu juga berlaku untukmu Yab, percayalah padanya. Inoo-chan itu walaupun terlihat lenjeh kesetiap seme, tapi dihatinya ia hanya mencintaimu. Ubahlah sedikit sikapmu Yab, jangan terlalu mengedepankan gengsi. Cintai dia, jangan sia-siakan dia. Jangan sampai dia diambil oleh orang lain, karna kalau sampai itu terjadi aku yakin kau pasti akan menyesal." ucap Yuya menyelesaikan penjelasan panjangnya.

Mendengar penjelasan Yuya barusan membuat Yabu tersadar. Yuya benar, ia terlalu mengedepankan gengsi dan egonya sendiri. Itu membuat Yabu menyesal, setelah ini ia akan langsung menemui Inoo dan meminta maaf.

"Ya, kau benar. Aku terlalu mengedepankan gengsi dan egoku sendiri, aku akan meminta maaf padanya dan mencoba merubah sikapku. Terimakasih Yuy" ucap Yabu

"Ya, lebih cepat lebih baik. Your welcome bro ehe" jawab Yuya

"Kalau begitu aku pergi dulu. Oh ya, kau tau Inoo dimana?" tanya Yabu

"Sepertinya ia masih di Jimusho. Barusan Dai-chan mengirimiku pesan katanya mereka baru saja menyelesaikan latihan mereka" jawab Yuya

"Baiklah kalau begitu aku duluan ya. Sekali lagi terimakasih" ucap Yabu sebelum pergi meninggalkan Yuya di Kafe tersebut.

~~~


Setelah sampai di Jimusho Yabu langsung bergegas keruangan tempat mereka latihan. Dan beruntungnya hanya ada Inoo diruangan tersebut, ia terlihat sedang membereskan barang-barangnya. Tanpa menunggu lama Yabu pun langsung menghampiri Inoo.

"Inoo-chan" panggil Yabu

Inoo terlihat sedikit tersentak mendengar suara Yabu memanggil namanya. Karna sejak tadi ia melamun sehingga tak menyadari ada orang lain yang memasuki ruangan.

"Y..ya?" jawab Inoo sambil membalikkan tubuhnya kearah Yabu, entah kenapa suaranya menjadi bergetar. Jujur saja ia sangat gugup, ia sangat merindukan sosok pemuda tinggi didepannya ini.

"A..aku, ada yang ingin aku bicarakan. Bisa kita bicara sebentar?"

"Um, tentu"

Mereka pun duduk disebuah sofa yang ada diruangan tersebut.

"Aku... Aku ingin minta ma'af noo. Aku minta maaf karna sudah berkata kasar padamu seminggu yang lalu. Aku sadar sekarang, aku terlalu egois dan hanya memikirkan diriku sendiri. Dan tanpa sadar aku sering menyakitimu. Aku minta maaf. Tapi jujur noo, aku begitu karna aku takut kehilanganmu. Aku benar-benar mencintaimu jadi aku takut kehilanganmu. Aku takut kau berpaling pada yang lain." ucap Yabu

"uhm, sebenarnya aku sudah memaafkanmu dari beberapa hari yang lalu, tapi aku terlalu takut untuk bicara padamu duluan. Justru aku juga ingin minta maaf Yab, sikapku mungkin memang sudah terlalu berlebihan. Aku tau fanserviceku dengan Yuya terlalu berlebihan. Tapi itu semua kami lakukan karna disuruh, kau juga tau itu kan? Kami melakukan itu untuk mengalihkan perhatian fans, agar mereka tak terlalu berlarut-larut memikirkan kevakuman Keito dua tahun ini. Dan kau harus tau, aku tidak akan pernah berpaling pada yang lain. Karna seberapa seringnya pun aku pergi bersama yang lain, seberapa bencinya pun aku pada sifat cuek dan tidak pekanya kau, atau seberapa sakitnya pun aku melihat fanservicemu dengan yang lain, aku tidak pernah bisa melupakanmu Kou"

Mendengar hal itu Yabu langsung tersenyum cerah dan langsung memeluk Inoo. Dan Inoo pun membalas pelukan Yabu.

"Terimakasih Kei, Terimakasih. Ma'af sudah meragukanmu. Aku mencintaimu" ucap Yabu sambil terus memeluk Inoo dengan erat

Hola ≧∇≦ aku kembali lagi~\(≧▽≦)/~ dan aku bikin cerita--gaje--dengan pair Yabunoo lagi^o^ YUHUUUUU JAYA RAYALAH YABUNOO💙💚

~Omake~


"YEAY AKHIRNYA MAMA DAN PAPA CHII BAIKAN LAGIIIIIIIII" Teriak member termuda grup tersebut, Chinen yang masuk kedalam ruangan diikuti member lainnya dibelakangnya. Membuat Yabu dan Inoo mau tak mau melepaskan pelukan mereka.

Ternyata sedari tadi semua member Hey! Say! JUMP berada diluar ruangan mendengarkan perbincangan Yabu dan Inoo.

"Nah begitu dong, baikan. Jangan marahan terus. Mesraan terus nih kaya aku dan Yuyyan" ucap Daiki sambil bergelayut manja dilengan kekasihnya

"Halah, waktu awal-awal konser juga kau marah-marah pada Yuya sampai dia kalang kabut membujukmu, dan kau baru mau memaafkannya saat dia membelikanmu 1 kardus pocky" ejek Yamada

"HEI! Diam kau! Aku tidak bicara padamu!" balas Daiki yang tak terima

"Weeeee" ucap Yamada sambil menjulurkan lidahnya pada Daiki

"Hey kalian berdua! Bisa diam tidak sih!" tegur Yuto

"tau nih kalian! Kalian mengganggu keharmonisan mama dan papa ku!!" ucap Chinen

"Mama dan Papa mu? Siapa mama dan papa mu Chii? Memangnya mereka ada disini?" tanya Daiki

"Tentu saja! Mereka berdua ini. Mereka itu Mama dan Papaku!" ucap Chinen sambil menunjuk pada Yabu dan Inoo dan tanpa segan duduk diantara mereka berdua

"Yakan Yabu, Inoo-chan?" tanyanya meminta persetujuan

"Tentu Chii, kau adalah anak kami yang paliiiiiiing kami sayang" ucap Yabu menyetujui

"Lalu aku bagaimana? Aku kembarannya Chii deshou, itu berarti aku anak kalian juga kan?" ucap Yuto

"Tentu Yut, kamu juga anak kami~" Jawab Inoo sambil terkekeh

"Yahuuuuu" ucap Yuto dan langsung duduk disamping Yabu

"Yuyyan lihat itu, Yabu-kun dan Inoo-chan sudah punya sepasang anak kembar! Apa kau tidak iri? Ayo kita juga bikin anak yang banyaaaaaaaaak" ucap Daiki sambil terus bergelyutan ditangan Yuya

"Haish Dai-chan, kau ini ada-ada saja" ucap Yuya sambil mengacak-acak rambut Daiki

"Hey Dai-chan, kau kan juga sudah punya anak dua" ucap Hikaru yang sejak tadi hanya memperhatikan

"Eh? Memangnya siapa Hik?" jawab Dai-chan

"Itu, Yamada dan Keito. Mereka itu bukannya anak kalian? Yamada itu pendek dan juga gendut sepertimu sedangkan Keito itu tinggi dan besar seperti Yuya" ucap Hikaru

"Yappari kau benar Hikka, eh tapi aku itu tidak gendut tau!"

"Ah Keito~ aku jadi kangen Keito, aku akan menelponnya!" ucap Yuto bergegas mengambil handphonenya lalu keluar ruangan

"Aku juga akan pulang duluan lah, jyaa" ucap Hikaru dan pergi menyusul Yuto keluar ruangan

"Yuyyan, kau sudah janji akan menemaniku belanja hari ini, ayo kita pergi~" ucap Daiki lalu menyeret Yuya keluar

"Yuri~ ayo kita pergi juga, hari ini kita sudah ada janji untuk makan malam bersama keluargaku kalau kau lupa~" ucap Yamada

"Tentu saja aku ingat, ayo, jyaa Inoo-chan Yabu-kun"

Dan pasangan itu pun keluar ruangan menyisakan Yabu dan Inoo saja dalam ruangan itu.

"haha mereka itu" ucap Inoo

"hmm,,rusuh sekali...."

"...Kei, sekali lagi. Gomen ne" ucap Yabu sambil menatap Inoo

"un, Daijoubu" ucap Inoo sambil balas menatap Yabu

Lama kelamaan wajah Yabu semakin mendekati wajah Inoo hingga hanya menyisakan beberapa inci saja.
Lalu....... Adegan selanjutnya bisa kalian bayangkan sendiri~

~Owari~




Omakenya kepanjangan ya😅 gapapa lah ya😌

Okelah segitu dulu aja ya~
See you~

Ryuusei no uta

Title : Ryuusei no uta
Pair : Yabunoo slight Yabuhika
Gendre : Hurt/comfort,Romance, friendship, comedy(?)

A/N : -Ini bukan songfict tapi aku lagi suka lagu itu:3 dan kusaranin bacanya sambil dengerin lagu itu juga biar lebih ena:3
-Ini karya pertama saya, jadi ceritanya mungkin gk menarik, gk nyambung, banyak typo, gaje dll:3

"Kei... Ku mohon.. Percayalah padaku... Aku mencintaimu, sungguh! Beri aku alasan kenapa kau memutuskanku?!"

"Cukup Kouta! Sudahlah, mungkin kita memang tidak ditakdirkan untuk bersama. Jadi lebih baik kita akhiri saja semua ini"

"Tidak Kei! Aku mohon! Aku mencintaimu Kei!"

"Sayonara... Kouta"

"Tidak! Tidak! Kumohon kei! Inoo kei!"

Hah...hah....hah....

Mimpi itu lagi. Sudah sebulan semenjak kami, atau lebih tepatnya dia, mengakhiri hubungan kami. Sudah sebulan ini juga aku selalu memimpikan kejadian itu, hari dimana dia memutuskan untuk menyerah dan meninggalkanku.

Sungguh! Demi apapun, aku tidak pernah mengharapkan hari itu akan terjadi, hari dimana dia akan meninggalkanku. Aku bahkan tidak berani membayangkan bagaimana jadinya hidupku tanpa dia.

Namanya Inoo Kei. Seorang pemuda cantik yang berhasil mengambil hatiku bahkan saat kami baru pertama kali bertemu.

Kami bertemu pertama kali saat Olimpiade Matematika, saat itu aku dipilih menjadi perwakilan dari SMP ku, begitu juga dia. Saat itu persaingan kami sangat ketat. Bagiku itu pertama kalinya aku mendapatkan lawan yang benar-benar sulit untuk ku kalahkan. Dan pada akhirnya dia lah yang memenangkannya. Dan itu juga pertama kalinya aku kalah dalam olimpiade matematika yang merupakan pelajaran favoritku, yah walaupun aku tidak benar-benar kalah sih, aku masih menempati posisi no 2. Tapi tetap saja, biasanya aku selalu menjadi no 1.
Sejak saat itu aku selalu penasaran dengan seseorang bernama Inoo Kei.

Saat memasuki SMA tidak aku duga ternyata kami masuk ke sekolah yang sama dan kelas yang sama juga. Dia orang yang sangat ceria dan juga pintar, dia juga punya banyak teman. Berbeda denganku yang agak pendiam dan hanya punya beberapa orang teman saja.
Karna kami mempunyai kelebihan yang sama, yaitu dalam Matematika. Kami sering disuruh untuk berdiskusi dan bekerja sama, khususnya jika ada olimpiade.
Sejak saat itu kami jadi sering bersama dan jadi lebih dekat, mulai terbuka satu sama lain.

Aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa Kei adalah anak Yatim piatu. Sejak kecil dia tinggal di panti asuhan. Namun berkat kecerdasan otaknya Kei bisa bersekolah disekolah yang bagus. Mengetahui hal itu entah mengapa kekagumanku padanya semakin bertambah, bahkan mungkin perasaan ini bukan lagi hanya perasaan kagum. Bisa dibilang mungkin aku,, mencintainya?

Di akhir kelas 1 SMA aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku, dan tanpa kuduga dia menerima perasaanku dan memberi tahu bahwa dia juga mempunyai perasaan yang sama padaku. Sungguh, hari itu adalah hari yang paling membahagiakan dalam hidupku, selain hari aku dilahirkan tentunya.

Setelah itu kami mulai berpacaran. Seperti yang sudah kukatakan tadi, dia adalah orang yang sangat ceria, dan ada satu sifat lagi yang baru dia tunjukkan padaku setelah kami pacaran. Dia sangat MANJA. Haha. Tapi aku menyukainya, dia jadi tambah lucu jika sedang dalam mode manja. Dan juga, aku adalah anak tunggal jadi cukup menyenangkan mempunyai pacar seperti dia, aku jadi seperti memiliki seorang pacar sekaligus adik. Aku jadi bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang kakak.

Hubungan kami berlanjut hingga kami memasuki dunia perkuliahan. Kami tidak satu jurusan. Aku mengambil Jurusan Manajemen sedangkan dia Arsitektur. Sejauh ini tak ada masalah yang berarti dalam hubungan kami, yah kalau hanya pertengkaran-pertengkaran kecil karna cemburu menurutku itu hal biasa.

Baru saat kami berada disemester 3, Perusahaan ayahku diambang kebangkrutan lalu orang tuaku memberitahuku bahwa aku akan dijodohkan, dengan anak dari sahabat mereka dengan alasan untuk mempererat hubungan persahabatan keduanya. Namanya Yaotome Hikaru. Sebenarnya dia adalah sahabatku sejak kecil, namun saat kelas 2 SMP dia pindah ke New York bersama kedua orang tuanya. Dan baru 1 tahun ini mereka kembali ke Jepang.

Aku tentu saja menolak. Aku bukannya ingin menjadi anak durhaka yang tidak menurut pada orang tua, tapi saat ini aku juga sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihanku sendiri. Terutama untuk pasangan hidup. Aku ingin menikah satu kali seumur hidup dan tentu saja dengan orang yang kucintai dan mencintaiku juga. Dan orang itu sudah pasti Kei! Inoo Kei! Aku hanya ingin menikah dengan dia. Lagi pula, sejak kecil aku selalu menuruti perkataan dan pilihan orang tuaku. Tidak bisakah kali ini aku menentukannya sendiri?

Aku benar-benar menentang keras permintaan mereka itu, namun kondisi ibu saat itu sedang tidak baik-yah bisa dibilang kondisi ibu memang sangat tidak baik, dia sering sakit-sakitan bahkan pernah koma selama seminggu setelah melahirkanku, karna itulah ayah memutuskan hanya akan memiliki anak 1-ibu jatuh pingsan sampai tak sadarkan diri selama 2 hari.

Saat itu ayah benar-benar memohon padaku, membuat aku tak tega dan pada akhirnya dengan berat hati aku menuruti keinginan mereka. Namun dengan mengajukan satu syarat, yaitu aku tidak akan menikah sebelum lulus dan bekerja. Dan ayah menyetujuinya.

Saat aku menceritakannya pada Kei, dia terlihat sangat kecewa. Dia tidak mengatakannya, hanya saja itu terlihat jelas pada mimik wajahnya, namun tidak berlangsung lama dia langsung mencoba tersenyum dan bilang tak apa-apa. Sungguh, hari itu aku benar-benar membenci diriku sendiri karna sudah mengecewakannya. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Dan lagi pula, aku berani sumpah bahwa orang yang kucintai adalah Kei, bukan orang itu.

Sejak itu aku masih menjalani hubunganku dengan Kei, walaupun disisi lain aku juga sudah bertunangan dengan Hikaru.

Hah~
Mengingat semua itu membuat kepalaku terasa sakit.
Kulirik jam diatas nakas disebelah tempat tidurku.

Pukul 07:25

Aku harus bersiap-siap pergi ke kantor.

~~~

Pukul 12:15

Sudah masuk waktu makan siang ternyata. Tapi perutku sama sekali tak merasa lapar, padahal tadi pagi pun aku tak sarapan.

"Halo..."

"Hikka?.. Ck, kalau masuk ruangan orang itu ketuk pintu dulu!"

"Ish ketusnya tunanganku ini, hehe maaf-maaf"

"Tak usah memanggilku seperti itu! Itu menjijikan!"

"Hih kau ini, aku hanya bercanda Yab. Oh ayolah, jadi orang itu jangan terlalu serius. Nanti cepat tua"

"Hmm,, ada apa kemari?"

"Aku ditelpon ibumu, dia menyuruhku mengajakmu makan siang bersama. Karna katanya akhir-akhir ini kau jarang makan, bahkan tadi pagi kau tak sarapan"

"Hmm, kau tak usah repot-repot. Nanti aku akan makan kalau sudah lapar"

"Oh ayolah Yab, jangan egois. Ini akan jadi masalah juga buatku tau!"

"Hah.. Baiklah, tunggu sebentar, aku akan menyelesaikan berkas ini dulu"

"Oke"

Salah satu hal yang percuma berdebat dengan Hikaru, ya bagaimana tidak. Dia sangat ahli mendebat argumen orang lain. Ah apa aku belum bercerita? Hikaru saat ini adalah seorang Pengacara terkenal. Kalau aku? Aku saat ini menggantikan posisi ayah sebagai CEO di perusahaan keluarga kami.

"Kau sudah selesai?"

"sudah"

"Baiklah ayo kita pergi. Oh ya, kita makan di Kafe dekat sini saja ya, habis ini aku masih harus menemui klienku"

"Hmm, ya terserah"

~~~

Dia.... Aku tidak salah lihat kan. Aku yakin mataku masih sehat. Dan aku yakin yang aku lihat itu dia. Ya, dia. Inoo Kei. Dia duduk disalah satu meja di Kafe yang aku dan Hikaru datangi. Jarak Kami hanya berbeda 2 meja. Tapi sepertinya dia tak menyadari kehadiranku.

Dia duduk dengan seorang pria. Pria itu, sepertinya tak asing. Ah ya, kalau tidak salah namanya Takaki Yuya, teman satu fakultas Kei saat kuliah dulu. Mereka terlihat berbincang ringan, sesekali Kei tersenyum dan tertawa. Senyuman itu, aku merindukannya. Sangat merindukannya. Dulu dia selalu tersenyum dan tertawa seperti itu didepanku..

"Yab? Yabu! Hei Yabu!"

"Ah, ya?"

Saking sibuknya memperhatian dia, aku jadi lupa kalau sedang bersama Hikaru

"Kau mau pesan apa?! Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu!"

"Samakan saja denganmu"

"Hmm, baiklah"

Aku kembali memperhatikan mereka. Mereka masih berbincang dengan santai. Dan sesekali tertawa bersama. Mereka itu... apa mereka pacaran? Apa semudah itu Kei melupakanku?

"Hei Yabu!"

"Hmm?"

"Itu bukannya,, Inoo? Dengan siapa dia?"

"hmm, entah"

Ah mereka mulai meninggalkan tempat mereka. Saat ini ingin sekali aku berlari mengejarnya lalu memeluknya.

"Hey itu mereka mau keluar. Kau tidak mau mengejarnya?"

"Tidak"

"Kenapa?! Bukannya kau mencintainya?"

"Aku sudah menceritakannya kan. Kami sudah putus. Dia memutuskanku"

Satu rahasia lagi, sebenarnya sebelum malam pertunangan kami, aku dan Hikaru sempat bertemu dan membicarakan tentang perjodohan ini. Dan ternyata Hikaru pun sebenarnya tidak menyetujui perjodohan ini, hanya saja ia tak punya pilihan lain, karna kalau ia menolak ayahnya akan melarangnya untuk menjadi seorang Pengacara yang merupakan cita-citanya sejak kecil. Jadi akhirnya kami memutuskan  membuat sebuah perjanjian untuk bekerja sama menggagalkan perjodohan ini.

"Lalu kau mau menyerah begitu saja? Cih, pengecut"

"Aku bukannya pengecut, hanya saja mungkin ini yang terbaik bagi kita semua. Ini akan memudahkan keinginan orang tua kita kan? Dan aku tak perlu menyakitinya lebih lama lagi"

"Cih, tetap saja kau ini pengecut! Tidak berani memperjuangkan orang yang kau cintai! Dan HEI! Kau bicara begitu apa artinya kau sudah menerima perjodohan ini?! Jangan-jangan kau mulai menyukaiku ya?! Hih, ingat perjanjian kita Yab! Dan lagi pula aku ini seme! Dan aku tidak sudi diper-uke olehmu! Kecuali kalau kau mau jadi uke dalam hubungan ini"

"Jangan mimpi! Orang yang aku cintai itu hanya Kei! Dan kau juga tau bahwa aku itu juga seme! Seme tulen! Mana sudi aku diper-uke oleh mu, hih! Aku bukannya melupakan perjanjian kita, hanya saja aku belum menemukan moment yang tepat untuk mendapatkan Kei kembali dan membuat orang tua kita membatalkan perjodohan ini!"

"Oh begitu, yokatta. Ku kira kau mulai menyukaiku jadi mulai menerima perjodohan ini hehe"

"Cih, jadi orang jangan kepedean!"

"Hehe maaf maaf, habisnya kau kata-katamu seperti itu sih, membuat aku salah paham ehe"

"Hmm, kau dari dulu ternyata tidak pernah berubah. Kukira setelah jadi pengacara kau akan sedikit lebih pintar, ternyata tidak"

"Hei apa maksudmu?!"

"Tidak, aku tidak bermaksud apa-apa"

"Oh ya, bagaimana kalau aku bantu kau mendapatkan Kei mu kembali?"

"Memangnya kau bisa?"

"Oi, tentu saja! Begini-begini aku itu jenius tau!"

"Oh ya? Lalu bagaimana caranya?"

"Nanti kuberitahu, sekarang aku harus pergi, klienku sudah menunggu. Jaa.."

"Hoi, lalu ini makanannya bagaimana?! Hoi Hikka!"

"Kau habis kan saja sendiri"

Ck, orang itu! Selalu saja seenaknya! Dan apa tadi katanya? Membantuku mendapatkan Kei kembali? Bagaimana caranya?

~~~

Sialan aku kesiangan! Tadi malam Hikaru menelponku dan menyuruhku untuk datang menemuinya pagi-pagi di Kantor katanya dia akan membicarakan rencananya untuk mendapatkan Kei kembali, dia bahkan mewanti-wantiku agar tak datang kesiangan. Tapi sialnya semalam aku malah terkena insomnia yang membuatku memutuskan untuk lembur dan baru tidur jam 3 pagi, alhasil aku baru bangun pukul 8! Dan saat ku cek Handphone ku ada ratusan panggilan tak terjawab dari Hikaru dari jam 6 pagi!
Sial! Aku harus buru-buru, kalau tidak kucing itu pasti akan ngamuk.

Sesampainya di Kantor aku langsung menuju ruanganku, tapi aku melihat Hikaru berdiri sambil bersandar ditembok didepan ruanganku. Cih, dia itu. Kenapa tidak tunggu didalam saja sih!

"Kau kesiangan Yabu Kouta-san?! Bukankah sudah aku peringatkan kau agar bangun pagi-pagi dan datang kesini pukul 7?! Lihat sekarang sudah jam berapa? Sudah jam 8:30 dan kau baru datang!"

Apa kubilang, dia pasti ngamuk!

"Hmm, ma'af semalam aku tak bisa tidur, dan baru bisa tidur jam 3 pagi"

"Alasan! Hah~ yasudahlah, ayo kita masuk. Ada yg sudah menunggumu didalam"

"Maksudmu? Oh iya, kenapa kau tidak tunggu didalam saja sih?"

"Jangan banyak tanya, sudah ayo masuk saja!"

Karna malas berdebat dengan Hikaru, aku akhirnya hanya mengikutinya masuk namun baru saja belum juga memasuki pintu mataku melihat Kei sedang duduk didalam sana, dia tidak menyadariku, matanya fokus menatap layar laptop didepannya. Menyadari itu aku langsung menarik lengan Hikaru keluar.

"Ada apa sih?!"

"Kau membawa Kei kesini?!"

"Kalau iya kenapa? Bukankah sudah kuberitahu kalau aku akan membantumu mendapatkannya lagi?"

"Iya, tapi..."

"Sudahlah jangan banyak tapi-tapi, harusnya kau berterimakasih padaku karna aku sudah membantumu menyelesaikan pekerjaan kantor sekaligus percintaanmu. Kau akan membuka cabang baru deshou? Dan membutuhkan seorang arsitek, karna itu aku membawanya kesini, jadi sekarang ayo cepat masuk dan selesaikan semuanya..."

"....Oh ya dan karna kau datang kesiangan jadi aku tak bisa menemanimu bicara dengannya karna aku juga masih harus bertemu dengan klienku. Ayo sekarang kita masuk kasian dia menunggumu dari tadi!"

Dan aku hanya pasrah saat Hikaru menyeret tanganku masuk kedalam. Dalam hati aku sudah merutuknya dengan berbagai umpatan, sambil berusaha menormalkan detak jantungku.

"Halo~ Inoo-san, ma'af membuatmu lama menunggu"

Ia langsung mengalihkan pandangannya pada kami saat mendengar suara Hikaru, kulihat dia sedikit terkejut saat melihatku, namun tak lama ia menormalkan kembali mimik wajahnya.

"Ah, iya tak papa Yaotome-san"

Aku duduk tepat didepan kursi yang diduduki Kei dan Hikaru disampingku, aku menatap lurus kearahnya, entah kenapa aku tak bisa mengalihkan pandanganku, aku benar-benar merindukannya. Kulihat ia sedikit gugup karna hal itu, matanya sesekali melirikku, namun ia tetap menormalkan mimik wajahnya.

"Inoo-san, ini orang yang tadi kuceritakan, dia butuh bantuanmu untuk membuat sketsa untuk kantor cabang perusahaannya, dan kurasa kalian sudah saling mengenal ne, jadi aku tak usah repot-repot saling memperkenalkan kalian...."

"Ah yabai~ sudah jam 9, aku harus pergi. Inoo-san maaf ya, aku harus pergi dulu. kau bisa langsung mendiskusikannya dengan dia ne. Aku pergi dulu, jaaa~ selamat bersenang-senang kalian berdua~"

"eh.. Yao...."

Setelah mengatakan itu Hikaru langsung pergi meninggalkan kami berdua, bahkan sebelum Kei menyelesaikan kalimatnya.

Setelah kepergian Hikaru kami hanya saling diam, sibuk dengan pemikiran kami masing-masing. Suasananya sangat canggung, aku tidak menyukai ini.

"ehem, maafkan Hikaru ya, dia memang suka seenaknya begitu"

"uhm, iie, tidak papa......"

"....ah iya tentang proyeknya.."

"Bisakah kita tidak membahas hal itu dulu?"
aku segera memotong perkataan Kei. Ada hal lain yang lebih penting yang harus aku katakan padanya.

"eh?"

"Ah maksudku, Kei... Ada hal yang harus aku katakan padamu, tentang keputusanmu sebulan yang..."

"Saya harap anda tidak membahas persoalan pribadi Yabu-san. Bukankah saat ini kita adalah rekan kerja yang sedang dalam jam kerja?"

"Kei... maafkan aku, aku benar-benar minta maaf. Aku mencintaimu Kei"

"Yabu-san!..."

"INOO KEI!"

"......."

"Kumohon dengarkan aku dulu, aku benar-benar minta ma'af. Kalau alasanmu memutuskanku karna kau mendengar percakapanku dengan Yuto, aku benar-benar minta ma'af, dan kau salah paham Kei. Aku tidak bermaksud begitu, maafkan aku."

"Dari mana kau tahu?"

"itu tidak penting, yang penting sekarang aku akan menjelaskan semuanya. Yuto itu salah satu anak dari orang kepercayaan ayah, dan aku yakin saat itu Yuto disuruh mengawasiku. Karna itu aku tidak mengakui bahwa kau adalah kekasihku. Saat itu kamu mendapat beasiswa deshou? Dan beasiswa itu sebagian besar dari perusahaan ayahku dan ayah Hikaru. Dan aku tidak mau ayah mencabut beasiswamu hanya karna dia tau bahwa kau adalah kekasihku, disaat aku sudah dijodohkan dengan Hikaru."

"Tapi saat itu bahkan kau bilang tak mengenalku, dan bilang kau tidak mungkin mengenal anak tidak jelas sepertiku!"

"Aku minta ma'af, aku benar-benar minta ma'af. Aku tau aku terlalu berlebihan saat itu, tapi itu aku lakukan agar dia percaya dan tidak curiga lagi. Aku tidak mau kamu mendapat masalah karna berhubungan denganku Kei, aku benar-benar minta maaf."

"........"

Aku berdiri lalu berjalan kesampingnya, dia membalikkan tubuhnya padaku dan tanpa segan aku langsung bersimpuh didepannya sambil memegang kedua tangannya yang ada dipangkuannya. Aku tidak peduli jika ada mungkin ada salah satu pegawaiku yang melihatku begini, Yang aku pedulikan saat ini hanya bagaimana cara agar Kei mau memaafkanku.

"Aku mencintaimu Kei, aku mohon padamu maafkan aku"

"Yabu-san! Kumohon jangan begini! Yabu-san, kumohon berdirilah"

"Kumohon Kei, maafkan aku. Aku tidak akan berdiri sebelum kau memaafkanku."

"Kau masih saja kepala batu seperti dulu!..."

"~Hah.. Aku memaafkanmu Yabu Kouta-san. Dan aku juga mencintaimu, sangat mencintaimu"

"Kau serius?!"

Aku benar-benar tak percaya ini. Apa dia serius?! Apa aku tak salah dengar?!

"Ya, aku serius. Sebenarnya aku sudah tahu semuanya setelah seminggu kita putus. Yaotome-san menceritakan semuanya padaku. Hanya saja aku menunggumu untuk mengatakannya sendiri. Dan akhirnya kau mengatakannya sendiri, aku senang"

Dia mengatakannya sambil tersenyum. Aku benar-benar tidak tau apa yang harus aku lakukan jadi aku langsung memeluknya sambil terus mengatakan "Terimakasih" dan "aku mencintaimu" dan dia membalas pelukanku juga.

Belum lama kami menikmati moment ini, sebuah suara yang sangat aku kenali mengintrupsiku, itu suara ibu!

"KOUTA!!"

Aku langsung membalikkan tubuhku kearah pintu, dimana sumber suara itu berasal. Disana ada ibu-yang duduk dikursi roda-ayah, dan juga Hikaru.

"Apa yang kau lakukan?! Siapa dia?!"

"Kaa-san.... Dia.."

Aku sedikit melirik Kei dibelakangku

"...Dia Inoo Kei, kekasihku"

"Apa maksudmu?! Kau sudah bertunangan dengan Hikaru! Kalian sebentar lagi menikah!"

"kaa-san, aku minta maaf. Tapi aku tidak mencintai Hikaru, yang aku cintai itu Kei. Lagi pula Hikaru juga tak mencintaiku Kaa-san. Jadi kumohon,, kumohon batalkan perjodohan kami Kaa-san, Tou-san."

"Kalau begitu cepat lamar dan nikahi dia"

"?!!! Ma...maksud kaa-san?!"

"Cepat lamar dan nikahi kekasihmu Kou! Mau sampai kapan kau terus menunda pernikahanmu? Bukankah kau bilang akan menikah jika sudah bekerja?"

"Jadi,, kaa-san merestui hubunganku dengan Kei?"

"Tentu, bukankah kau bilang kau mencintainya? Sejak dulu kaa-san dan tou-san selalu menunggumu memperkenalkan seseorang yang kau sukai pada kami, tapi bahkan sampai kau kuliah pun kau tak pernah memperkenalkan seseorangpun pada kami. Karna itu lah kami memutuskan untuk menjodohkanmu dengan Hikaru, karna kalian berdua cukup dekat sejak kecil. Dan orang tua Hikka-chan pun menyetujuinya, karna menurut mereka Hikka pun mengalami hal yang sama"

"La..lalu bagaimana dengan perjodohanku dan Hikaru?"

"Tou-san dan Kaa-san akan membicarakannya pada orang tua Hikaru untuk membatalkannya"

"Kau tidak usah khawatir, nanti aku juga akan mengatakannya pada orang tuaku, mereka pasti akan mengerti"

"Kalian... Terima kasih! Terima kasih banyak!"

Aku langsung memeluk ibuku, setelah itu berojigi didepan mereka bertiga. Sungguh aku benar benar tidak menyangka. Kami-sama terima kasih!

"Jadi, kapan kau akan melangsungkan pernikahanmu Kou? Kau tahu kondisi kesehatan kaa-san kou. Jadi cepatlah menikah, kaa-san takut tak bisa menyaksikan pernikahanmu"

"Kaa-san jangan bicara begitu! Aku akan segera menikah. Kami akan menikah bulan depan!"

"Kou-chan! Kau bahkan belum bertanya padaku apa aku mau menikah denganmu atau tidak!"

"Aku tidak perlu bertanya padamu Kei, karna tanpa kutanya pun aku sudah tau jawabannya. Kau pasti mau"

"Cih narsis! Aku tidak mau!"

"Bercandamu tidak lucu Kei"

"Tapi aku benar-benar tidak mau Kou-chan!"

"Kenapa?! Bukankah tadi kau bilang kau menyukaiku?"

"Iya, makanya aku bilang aku tidak mau. Aku tidak mau kalau tidak menikah denganmu hehe"

BLUSH!

"HAHAHHAAHHAHAHAH"

(no subject)

Hello~
My name is Amelia, but you can call me el-chan or eru-chan (because there are so many people who use the name Amel😂)
I am come from Indonesia.
My Ichiban in Hey! Say! JUMP is Chinen Yuri.
My OTP is Yamachii or Yamachine and Yabunoo.
And also another OTP in JUMP like Takadai and Okajima

I hope you guys want to be friend with me^^









I'm sorry for my bad grammar:3